Always run back to the future …..

Latest

Wanita Berpendidikan dan Berpenghasilan Tinggi

image

Berawal dari obrolan ringan di sore hari dengan seorang teman. Intinya membahas bahwa banyak pria yang takut untuk mendekati wanita yang berpendidikan tinggi atau berpenghasilan tinggi.

Dan inilah pandangan saya :

Tak semua wanita berpendidikan tinggi ingin sombong dihadapan pria padahal yang ia inginkan hanya ingin mendapatkan ilmu, belajar sebanyak-banyaknya yang ia bisa, membuka dan menambah wawasannya. Bukan untuk adu kepintaran dengan pria. Namun, ia berpikir mungkin saja esok hari akan berguna bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi anak-anaknya juga rumah tangganya. Bukankah pria tidak suka dengan wanita yang bodoh? Tidak bisa diajak bertukarpikiran. Lalu apa salahnya wanita berpendidikan tinggi? Kalau yang di gengsikan adalah gelar, tahukah para pria, bahwa ada golongan wanita yang menganggap bangku pendidikan adalah hanya merupakan suatu media untuk mencari ilmu? Bukan untuk gaya-gayaan ataupun mendapat gelar panjang dibelakang namanya.

Tak semua wanita berpenghasilan tinggi ingin sombong dihadapan pria padahal rezeki yang ia dapatkan semata-mata hanyalah karena kehendak Tuhannya atas apa yang telah diusahakannya. Lalu apakah Pria ingin protes apa yang menjadi kehendak Tuhan? Padahal yang mengatur rezeki adalah Tuhan. Protes saja Tuhan kalau memang bisa. :D :D :D

Orang selalu beranggapan, yang ideal adalah yang seperti ini, yang bagus adalah yang seperti itu. Namun jika kita menyadari, hidup tidak bisa kita prediksi, yang penting adalah kita percaya diri dengan langkah kita menuju masa depan bersama-sama dengan orang yang kita sayangi. Saling menguatkan dikala rapuh, saling berbagi di saat bahagia, serta saling mengerti kodrat dan tanggung jawab masing-masing.

Anyway, last but not least…..

Wanita berpendidikan, berkedudukan dan berpenghasilan tinggi tak boleh sombong. Pria berpendidikan, berkedudukan dan berpenghasilan tinggipun tak boleh sombong. Karena pria dan wanita termasuk dalam himpunan manusia. Maka kesimpulannya, manusia berpendidikan, berkedudukan dan berpenghasilan tinggi tak boleh sombong. Hahaha. :D

Kiat-kiat Mencari Jodoh Yang Baik

image

Mencopas dari Facebook Ustadz Arifin Ilham, berikut ini adalah KIAT KIAT mencari jodoh yg baik:

1.  Sungguh-sungguh BERTAQWA kepada ALLAH, "Barang siapa BERTAQWA kepada ALLAH, niscaya ALLAH tunjukkkan jalan keluar baginya & ALLAH beri rizki dari jalan yang tidak pernah ia duga" (QS 65:2-3),

2. Ikhtiar maksimal dengan merawat diri yakni dengan cara tetap menjaga kehormatan diri sbg hamba ALLAH yqng beriman,

3. Doa dipenghujung malam, "Robby la tadzarny fardan", Ya ALLAH, jangan biarkan hamba membujang, (QS21:89),

4. Perhebat sholawat & istigfar kqrena dosa bisa jadi hijab berkah jodoh,

5. Sholat dhuha, diantara rizki adalah jodoh yg baik,

6. Optimis, insyaALLAH, ALLAH tunjukkan jodoh yg terbaik,

7. Sedekah sebagai pendokrak masalah & membuat doa mustajab,

8. Mohon doa pada orang tua, keluarga dan guru yg istiqomah,

9. Aktifkan diri pada group kajian, Majlis Ilmu & Zikir, insya ALLAH bertemu hamba-hamba ALLAH yg baik pula

10. Tidak salah minta bantuan sahabat untuk "attaa’ruf" saling berkenalan dengan tetap menjaga Etika Islam,

11. Tawakkal & baik sangka atas pd semua TAKDIR ALLAH.

Akhirnya mari kita berdoa kepada ALLAH agar ALLAH menunjukkan JALAN TERINDAH untuk jodoh kita, tdk saja di dunia ini tetapi juga sampai di akhirat kelak…aamiin.

Paralaks

M45_2_Sky_6x4_150dpi_edlunt

Tidakkah kau lihat adanya gundah

Tidakkah kau rasakan kelunya lidah

Kau pandang aku bagai pesulap berlaga

Terhipnotis pada tipuan mata

Paralaks oh paralaks….

Di malam bulan tertutup awan

Pada balutan dingin hujan

Kubisikkan satu rahasia

Ini aku,

bukanlah pemberani

Hanya saja,

Pengecut yang mati berkali-kali

Menjadi seperti itupun aku benci

Ada Beda

imageYapzz, kita ketemu lagi di Dazzdays. Kali ini saya mau cerita tentang pengalaman saya baru-baru ini. Beberapa hari terakhir banyak pertanyaan-pertanyaan muncul dikepala saya. Ini berawal dari kehidupan baru yang saya alami tapi juga berkaitan dengan pengalaman masa lalu. Dulu sekali, waktu zaman kuliah, saya punya satu orang sahabat sebut aja Ms. L. Nah, orang ini betul-betul super pintar. IPK nya aja selangit. Salut saya. Pelajaran apapun dibabat sama dia. Orangnya baik,  suka membantu orang lain dan saya angkat jempol untuk kegigihannya dalam hidup. Dan kali ini, saya juga menemukan seorang kenalan. Menurut saya dia sangat cerdas. Kalau dia berbicara, bagai terseret kedunia filsafat. Sungguh saya merasa bisa melihat dunia dari cermin yang lain. (lebay :D ). Anggap saja saya mengagumi keduanya. Tapi, sayang sungguh disayang, antara saya dan mereka, kami memiliki perbedaan dalam keyakinan. Inilah salah satu yang memicu pertanyaan yang terus berkecamuk dikepala saya.

“Saya bertanya pada Tuhan, mengapa tuhan menciptakan perbedaan? Mengapa tak semua orang memulai hidup dengan bekal yang sama? Tapi tuhan menciptakan manusia dengan awal hidup yang berbeda? Seandainya hidup dapat diminta, sebelum lahir kedunia tak ada yang mau dilahirkan dari keluarga yang tidak menganut ajaran tuhan yang sesungguhnya. Semua pasti ingin menuju jalan yang benar tanpa harus terlebih dahulu terjerembab jalan yang salah. Saya bertanya-tanya, apakah ini berkaitan dengan misi dalam hidup yang masing-masing kita emban sebagai manusia?. Karena saya percaya bahwa setiap manusia yang lahir kedunia mengemban satu amanah di pundaknya. Dan apakah amanah kita sebagai manusia berbeda-beda? Saya, yang lahir di keluarga muslim, apa misi saya dalam hidup ini? Dan mereka yang terlahir di keluarga non muslim apa misinya dalam hidup mereka?. Saya paham, bahwa sebelum manusia lahir ke dunia, mereka telah diikat perjanjian oleh Tuhan mereka bahwa mereka tidak akan mengingkari eksistensi Tuhan mereka. Sejatinya mereka akan mengikuti dan mencari kebenaran hakiki yakni kebenaran yang menuju jalan Tuhannya. Namun, mengapa justru kita lahir kedunia dengan berbeda-beda dan ketentuan itu tidak dapat dipilih. Ya, tidak ada yang bisa memilih untuk dilahirkan dari keluarga dengan agama ini atau agama itu bukan?. Dan tentu saja, didunia ini, saya percaya hanya ada satu saja agama yang benar. Beruntunglah bagi yang dilahirkan dengan agama yang benar karena baginya akan lebih mudah mengenal Tuhan yang sesungguhnya ketimbang yang beragama lain. Karena bagi mereka yang terjarat dalam agama lain, umumya mindset mereka telah terdoktrin oleh agama yang dianutnya bahwa agamanya adalah yang paling benar (sayapun juga demikian). Artinya proses mencari tuhan yang sesungguhnya akan menjadi lebih sulit baginya. Lalu apa akibatnya jika sampai mati mereka yang tidak menganut agama Tuhan yang sesunggunya dan tidak menemukan jalan titik terang, apakah mereka akan dihukum? Sungguh kasihan bukan?”

Ya itulah beberapa pertanyaan yang ada dikepala saya yang sampai saat ini saya tidak tahu apa jawabannya karena logika saya yang terbatas ini. Hanya saja, saya merasa sedih. Saya teringat satu kisah di Tahun penuh duka yang dialami oleh Nabi Muhammad S.A.W. Ketika nabi ditinggal wafat oleh Paman yang sangat dicintainya, Abu Thalib yakni salah seorang yang selalu membela Nabi dalam berdakwah. Namun sayang disayang, Nabi mendoakan beliaupun tak ada gunanya karena beliau tak pernah sekalipun mengucap syahadat. Sedikitnya saya jadi mengerti bagaimana rasa sedih dan rasa menyayangkan yang dialami Nabi saat itu mengingat pengalaman saya yang sebelas duabelas mirip dengan kisah tersebut. Saat ini, melalui tulisan ini, saya hanya bisa berkata,

Teruntuk kawan-kawanku yang kusayang, meski masih tak kutemukan jawaban atas dasar apa perbedaan ini ada. Namun padaNya tetap kumunajatkan do’a untukmu, semoga engkau senantiasa diberikan petunjuk dan keselamatan. Sungguh meski kita berdiri di jalan yang berbeda, tapi kau yang hadir dalam persimpangan hidupku, meskipun hanya sekejap, tlah membawa begitu banyak kebaikan untukku. Terimakasih.

Kepada Kakekku Adam

Kakek,

Malam ini aku bermimpi sesuatu

Mengusikku hingga tulang rusukku

Merenggut nyenyaknya tidurku

Pada kisah antara kau dan keturunanmu

Ketika Ia memperlihatkannya kepadamu

Sungguh ku tahu diantara kerumunan itu

Mungkin aku tak menarik perhatianmu

Tapi tidakkah kau dapati aku disana kakek?

Memperhatikanku sejenak saja?

Ingin bertanya padamu …

Bercahayakah aku atau gelapkah aku?

Muliakah aku atau hinakah aku?

Kakek,

Aku tahu para junjungan

Mereka keturunanmu yang tiada bandingan

Tapi ku ingin kau juga menyambutku,

Tersenyum padaku,

Memanggilku diantara kerumunan itu

Anak sholeh, anak sholeh ….

 

 

Surabaya, 12 Juni 2011

Antara ketidakadilan dan ketidaksabaran

Tuhan….

Meski  sebagian hatiku terucapkan sabar dan tabah, tetap saja ada setitik rasa menggelitik kalbuku. Tentang rasa ketidakadilan akan jalanku. Tak mampu ia kubendung. Tapi tak  ingin pula biarkan ia hidup.

Hamba manusia biasa Tuhan….

Tunduk dan percaya padaMu adalah jalanku. Namun terkadang tak kuasa kutahan penyakit hati. Sebagian dari ia tetap menghujat. Bagai para demonstran lapar keadilan. Berharap Kau adil padaku.

Ku tahu ini salah, Tuhan…

Kau ciptakan segala hal berpasangan seperti langit dan bumi,  siang dan malam, juga mati dan hidup. Tak ada yang tak seimbang, tak ada yang tak adil, dan semua berjalan sesuai waktunya, sesuai dengan kadarnya.  Tapi setan-setan kecil terus menggerogoti keyakinan, menciptakan bermacam alasan untuk mengingkariMu atas nama keadilan.

Maafkan Tuhan, Maafkan….

Jika baru setengah hati mengedepankan sabar dan tawakal

Penglihatanku hanyalah penglihatan yang rapuh

Tak dapat kujadikan sandaran untuk menerka apa yang menjadi kehendakMu

Karenanya jagalah hati, agar tetap teguh dalam JalanMu dan sabar pada JanjiMu

Surabaya

Friday, May 13, 2011

 

Alhamdulillah saya lahir di Indonesia

Tulisan ini hanya pemikiran saya semata, jadi kalau ada yang tidak berkenan saya mohon maaf sebelumnya. Pas juga, karena momennya ramadhan, jadi saya mau mengungkapkan rasa syukur saya… :)

Karena banyaknya permasalahan yang muncul di negara indonesia ini sampai bosan mendengar berita yang menggambarkan betapa parahnya negara ini. Dari segi bidang politik, agama dan lain-lain, tiap hari ada saja masalahnya. Sampai-sampai saya berkhayal andaikan saja saya tidak lahir di negara ini. Kalau dilihat di negara lain secara pandangan kasar  rasanya kok lebih enak ya……Paling tidak yang kelihatan dari layar kaca (gak tau aslinya gimana), kayanya nasib warga negara mereka diatas negara ini ya?. Apalagi kalau kita punya cita-cita ingin menjelajah ke negara-negara impian karena perkembangan budaya dan teknologi disana lebih pesat dibanding disini. Wih, makin tergiur rasanya untuk pergi secepatnya dari negara ini (bertanya pada diri sendiri : mana rasa nasionalismemu? hahahaha).

Contohnya saja, saya bukan maniak sih tapi suka saja dengan budayanya orang jepang dan korea (contoh lain sih ada : Amerika, Inggris, dll tapi berhubung rada penggila negara ini, makanya yang disebut ya dua negara ini). Masyarakat indonesia juga udah tahu banyak kalau negara-negara tersebut “the best lah” dalam bidang bikin drama. Dari anak-anak sampai orang tua juga pada suka sama hasil karya mereka. Bahkan banyak yang disadur oleh negara kita.  Siapa coba yang tidak bangga kalau menjadi warganegara sana. hahaha…ya itu salah satu pikiran saya. Tentu saja karena mengidolakan maka layaknya orang yang mengidolakan sesuatu, saya juga bermimpi untuk pergi kesana.

Memang sih, peradaban yang makin modern memang di pimpin oleh negara-negara Amerika, Inggris, Jepang, China dll. Memang sebagian masyarakat indonesia bisa mengikuti peradaban itu tapi kalau dilihat banyak juga masyarakat yang tidak siap terhadap hal-hal tersebut. Akhirnya ya timbul masalah lagi… repot deh…

Sudah ah,, kalau bicara hal ini pasti tidak ada habisnya. Kalau kata kakak saya, negara ini bobrok (karena saking keselnya juga, makanya dia bilang gitu). Tapi saya tidak tega untuk menyebut seperti itu, karena masih banyak hal yang patut di syukuri karena saya lahir di negara ini. Hal terbesar yang saya syukuri adalah karena Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk muslim yang terbesar di dunia. Karena persentase yang besar, maka kemungkinan seseorang lahir dengan memeluk agama inipun sangat besar dibanding agama lainnya (yah, logika saya mikirnya gitu).

Setiap orang memang bebas menentukan agama apa yang menurutnya paling benar. Tapi pokoknya saya bersyukur deh, seandainya saya lahir di Amerika, Jepang, Belanda, Inggris dsb maka kemungkinan besar saya tidak akan memeluk islam sejak lahir. The conclusion is I am proud to be a moslem, and thank God I am an Indonesian. :)

Review : Software Lingo Untuk Masalah Optimasi

Kali ini saya mau bahas soal LINGO. Maklum sudah berapa bulan saya bergelut sama yang namanya software ini. Jujur inipun karena terpaksa :D . Awalnya saya gak bisa banget yang namanya pake LINGO. Tapi apa boleh buat, karena saya nggak mungkin belajar pemrograman untuk membuat algoritma heuristik dalam waktu singkat untuk menyelesaikan Damn T saya, maka software inilah satu-satunya yang paling gampang untuk di pelajari. Yah jadi sekarang saya sedikit paham sama yang namanya LINGO. Padahal dulu waktu semester awal kuliah S1 diajarin loh di mata kuliah operation research. Tapi tetep aja karena motivasi tidak sebesar seperti untuk mengerjakan damn T, maka learning progress-nya jadi hidup segan mati tak mau.

Disini saya akan berbagi opini yang saya dapatkan ketika menggunakan LINGO. Tentu saja ini menurut pandangan saya, mungkin jika pengguna lain akan merasakan hal yang berbeda atau menemukan hal yang berbeda. Tentu saja ini dikarenakan saya juga newbie dalam hal ini maka pengetahuan saya juga terbatas. Dan opini-opini saya itu adalah:

  1. Lingo itu mudah di pelajari. Bener deh, asal tahu model matematis, maka tinggal di translate aja bahasa matematis itu ke dalam Lingo Code. Contohnya perulangan @For, artinya konstrain diulang sebanyak yang dimau atau @sum artinya variable atau parameter akan dijumlahkan berdasarkan indeksnya. Yang jelas kalau orang jawa bilang, peng-codingananya sangat amat plek sama model matematis yang akan di selesaikan.
  2. Lingo itu powerful banget buat menyelesaikan berbagai variasi masalah. Lihat saja pada contoh masalah yang ada pada guidelinenya, banyak sekali jenis masalah yang dapat diselesaikan Lingo. Tapi tentu saja balik lagi pada teknik solusi yang digunakan pada LINGO adalah metode eksak (Sama aja sih sebenernya dengan optimization software lainnya), maka untuk masalah yang skalanya besar apalagi combinatorial NP-Hard (opo maneh iki???) waktu running akan lama,,, yang ini sudah pasti jelas lah.. :D

Berkaitan dengan fitur, fitur dalam Lingo ini cukup lengkap. Yang saya tahu selama pengggunaan LINGO, beberapa fitur hebat dari LINGO adalah :

  1. Yang pertama fitur untuk Model Non-linear. Model yang mengandung persamaan non linear ini dipandang susah untuk di selesaikan karena bisa jadi solusi terjebak pada local optimum, padahal masih ada nilai yang lebih baik dari nilai tersebut. Di LINGO ada beberapa fasilitas untuk menyelesaikan model non-linear yakni global solver dan linearization. Untuk global solver settinganya sangat gampang. Tinggal ke option-pilih tab global solver- terus diklik “use global solver” dan dengan mudahnya anda akan mendapatkan nilai optimal. Tapi sayangnya saya belum paham benar konsep global solver ini. Yang kedua adalah melinearkan permasalahan yang non-linear. Tentu saja ini adalah kabar gembira bagi yang memiliki model-model non linear karena tidak perlu repot-repot untuk melinearkan persamaannya. Tapi balik lagi waktu saya coba ini jumlah constraints jadi super membludak. Apalagi waktu saya lihat di general modelnya (Ctrl+G) sampai pusing lihat variable dan constraint tambahannya saking banyaknya. Padahal waktu saya coba melinearkan persamaan saya dengan manual nggak butuh variable dan constraint tambahan sebanyak itu.
  2. Yang kedua, untuk problem yang skalanya besar, LINGO punya matriks dekomposisi untuk medekomposisikan model kedalam blok struktur. Artinya seperti teknik dekomposisi problem dipecah-pecah berdasarkan strukturnya lalu kemudian   dikerjakan secara sekuensial . Tentu saja ini menjadi kabar gembira lagi bagi yang memiliki problem besar karena tidak perlu belajar susah-susah mengenai teknik dekomposisi. Tapi entah kenapa, waktu saya coba fasilitas ini saya tidak merasakan perbedaan speed yang drastis dalam mengerjakan model saya. Atau mungkin masalahnya ada di model saya, atau mungkin karena versi yang saya pakai versi tahun terbelakang… who knows? entahlah
  3. Yang ke tiga. Lingo bisa di integrasikan dengan Ms. Excel. Tentu saja ini jadi makin memudahkan kita menganalisa hasil ouput tanpa mengcopas satu persatu output. Apalagi jika di kombinasikan dengan VBA Excel, Lingo bisa langsung di panggil melalui excel yang sebelumnya sudah berisi data inputan. Setelah itu tinggal pinter-pinternya kita buat report secara otomatis dengan memanfaatkan fasilitas VBA excel.

Itulah opini-opini yang saya dapat simpulkan selama saya menggunakan software ini. Bagi yang mampir disini mungkin ada yang lebih paham dan mau berbagi informasi dan pengetahuan mengenai software ini monggo di komen. :)

Semoga review kali ini bermanfaat.

Salam, Always Run Back To The Future …..

Apakah ini bakat terpendam?

Akhir-akhir ini, semakin gila saja hidup saya. Bikin ini bikin itu. Belajar ini belajar itu. Pingin deh semua ini segera berakhir. Tapi lucunya saya menemukan dan menyadari satu kebiasaan aneh dibalik aktivitas-akitvitas itu yakni saya jadi suka menyanyi. Mungkin menurut yang baca posting ini bingung ya? Aneh dimana ? Semua orang juga suka sama nyanyi.

Eh tapi tunggu dulu, yang saya nyanyikan ini bukan lagu-lagu yang sekarang sedang beredar atau booming. Tapi lagu dengan syair yang keluar begitu saja dari bibir saya. Dan menurut penilaian saya “LUMAYAN” (Narsis Mode :On, hahaha). Kalimat satu dengan yang lain nyambung dan bermakna, meskipun keluar secara asal-asalan. Yah meski yang  keluar masih sepotong-sepotong tapi saya jadi bertanya-tanya bila mungkinkah saya punya bakat terpendam jadi seorang penulis lagu alias songwriter? Hahaha. :D

Tapi dipikir-pikir ini susah juga. Meski saya suka musik, dan pasti terkagum-kagum kalau melihat seseorang sedang main alat musik. Tapi saya tidak bisa memainkan satupun alat music. Pada dasarnya saya sebenernya pingin banget bisa, tapi gak ada kesempatan untuk belajar sih. Paling-paling yang saya bisa cuma main gitar. Itu pun sebatas kunci-kunci dasar. Seperti lagunya kuburan “Lupa” C Am Dm ke G ke C lagi. Nah ini baru deh saya bisa hehehe

Dan Tapi… Nah bingung tuh, dan kok pake tapi…Maksudnya, ya tetap saja menurut saya ini KARYA SENI. Jadi deh, saya abadikan setiap kali bibir saya bersenandung tidak jelas. Sama halnya kalau saya lagi bikin puisi. Kalau belum jadi, pasti saya simpen dulu kata-kata yang sudah ada dikepala saya. Karena saya punya keyakinan, siapa tahu potongan-potongan lirik itu suatu saat bisa saya lengkapi. Kalau sudah utuh tentunya nyanyinya gak akan sepotong-potong lagi. Meski hanya untuk diri sendiri dan yang bilang lumayan juga diri sendiri (termasuk tipe orang yang terkadang suka narsis dengan karya sendiri, hahaha :D ), tapi pasti akhirnya merasa puas dan senang. Paling nggak anggep aja menemukan hiburan tak terduga. :D

Komikku Ku Sayang, Komikku Ku Benci

Baca komik bukan sekedar bacaan saja buat saya. Kadang ini adalah obat mujarab penghilang stress. Sejak dahulu saya agak-agak  komikholic (agak loh, soalnya saya masih suka banyak mikir dan pertimbangan kalau beli komik, terutama masalah hubungan antara panjangnya  seri dan budget, :D ). Sewaktu SMA, beberapa minggu sekali ketika pulang sekolah saya pasti menyempatkan diri untuk membeli komik. Sampai sekarangpun kebiasaan itu masih ada. Apalagi baru-baru ini, akibat kepala stress berat karena tekanan pengerjaan thesis, maka semakin sering saja saya membeli komik. Kemarin saja saya beli dua komik baru dengan selang waktu kurang dari seminggu dari pembelian komik sebelumnya. Padahal  awalnya nawaitu-nya saya pergi ke Toko Buku mau membeli buku yang saya butuhin untuk thesis. Eh lah kok buntutnya saya beli komik lagi.

Tapi cerita kali ini saya gak akan membahas masalah kegemaran saya menumpuk komik-komik. Yang saya mau bahas adalah bagaimana perkembangan komik-komik tersebut. Dari kacamata saya, perkembangan manga (komik jepang) makin keren aja. Gambar-gambarnya makin bagus. Apalagi banyak serial-serial yang keren-keren mulai bermunculan. Tapi ya begitu, karena di Indonesia juga tidak ada jaminan apakah komik itu akan diterbitkan sampai tamat, makanya terkadang saya malas untuk membeli komik serial ini. Ditambah harga komik yang semakin mahal saja, karena itu hanya satu saja komik serial yang masih saya tumpuk yakni serial detective conan. Yang lainnya paling saya liat online. Itupun kalau koneksi sedang tidak lemot dan tidak malas menghadap ke komputer. Akhirnya karena alasan tersebutlah, saya lebih suka membeli serial pendek atau komik satu seri habis.

Nah, kebanyakan tipe komik serial pendek atau komik satu seri habis ini ceritanya adalah cerita tentang percintaan remaja, tentu saja ala remaja jepang. Kalau jaman saya SMA dahulu cerita ini masuk kategori serial cantik. Ceritanya seputar, mengejar cinta, putus cinta, dan masalah cinta-cinta lainnya yang dikemas dengan cerita lucu atau yang sedih tapi akhirnya happy ending. Tapi yang saya amati sekarang,  ada perbedaan mencolok selama enam tahun terlewati sejak saya lulus SMA. Komik-komik serial cantik yang beredar di Indonesia ini, apalagi yang tahun-tahun 2008-2010, semakin berani saja menampilkan cerita atau  gambar-gambar yang memang mungkin sudah menjadi hal yang wajar bagi “remaja jepang” tapi TIDAK untuk Indonesia. Itu menurut saya. Yang saya heran, kategori nya komik-komik tersebut kok remaja. Cerita mungkin boleh saja untuk konsumsi remaja, tapi gambar-gambarnya ada kalanya lebih dari batas kewajaran pergaulan remaja (untuk Indonesia dari sudut penilaian saya).

Saya memang suka baca komik, dan meski saya juga bukan remaja lagi, saya juga masih suka baca serial cantik seperti ini apalagi yang ceritanya lucu, ringan atau biasa-biasa saja tapi manis. Pas banget kalau untuk cerita selingan dikala stress. Tapi saya merasa tertipu dan benci sekali jika ternyata komik-komik yang saya beli tidak seperti yang saya harapkan. Saya merasa tertipu itu lantaran kalau beli komik baru, komiknya kan dibungkus. Jadi kita tidak akan tahu apa saja isi yang ditampilkannya. Meski saya suka ber-cenayang ria menebak-nebak  konten komik melalui sinopsis ceritanya dan gambar cover depan, tentu saja tidak selamanya 100% tepat menebak isinya.

Yah ini kritik saya saja…..

Kalau kepada pengarangnya.Tidak usahlah membumbui cerita dengan gambar-gambar seperti itu, karena menurut saya sebagian besar komik yang menampilkan gambar-gambar seperti itu agak memaksakan. Lagipula kalau dari pandangan saya ceritanya juga tetap akan bagus tanpa adanya bumbu-bumbu seperti itu. Tapi susah juga nih, karena kita juga beda budaya sama mereka disana. Pasti kalau disana hal ini dianggap wajar.

Kalau kepada penerbit di Indonesia….

Lebih ketat lagi dalam melakukan penyeleksian komik-komik ini dalam pelabelan kategori remaja dan dewasa. Karena kadang-kadang ada saja komik yang salah masuk kategori. Saya harap sih, sebelum benar-benar diterbitkan periksa kembali konten-nya dengan meminimasi halaman-halaman yang mengandung gambar yang tidak seharusnya. Tapi mungkin bingung ya. Dimana standar kewajaran yang boleh dikategorikan untuk remaja?. Kalau ini sih kita balik lagi aja kepada pandangan banyak orang tentang pergaulan remaja Indonesia. Mereka suka bilang “prihatin ya”. Kalau kata-kata ini sudah keluar /dan bisa keluar dari lisan mereka, tentu saja mereka paham dan tahu dimana batas-batasnya kan? Saya harap penerbit juga melakukan hal yang sama.

Yang ini himbauan saja…

Saya menulis begini karena memang juga prihatin terhadap pergaulan remaja Indonesia yang sudah parah sekali. Makanya, paling tidak hal-hal seperti ini dapat di minimalisir. Kepada orang tua juga harus bisa mengawasi anaknya. Jangan sampai kecolongan. Apalagi kadang sudah jadi orang tua, sudah tidak pula mengkonsumsi  bacaan komik, jadi tidak tahu bagaimana perkembangannya. Karena banyak sekali komik-komik yang digandrungi anak umur 6-12 tahun yang sebenarnya bukanlah kategori bacaan yang tepat buat mereka. Dan lagi banyak orang tua yang salah menganggap bahwa komik itu adalah bacaan untuk anak-anak dan remaja. Padahal  sama halnya seperti film, konsumsi terhadap hal ini perlu seleksi konten yang tepat dan ketat.…

Kalau dibawah ini adalah salah satu komik serial cantik favorit saya yakni eensy weensy monster, ceritanya lucu, ringan, tapi manis….

Yang dibawah ini komik serial cantik favorit saya waktu SMA. Komiknya kocak dan gokil abizz, kalo saya baca, saya sampe ngakak jungkir balik…

Dan yang terakhir, saya ini sebenarnya bingung, komik yang sudah terlanjur dibeli ini dan akhirnya saya benci isinya harus saya apakan??? Saya sayang buangnya (karena sudah buang-buang uang) tapi saya benci bacanya….Argh, inikah yang namanya salah satu contoh dari Consumer’s Risk dengan probabilitas Beta???!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.