Always run back to the future …..

Curhat Colongan : Bagaimana facebook mempengaruhi hidup saya seperti sihir dan candu???


image

Mungkin beberapa hari ini teman-teman tidak melihat saya online FB. Satu status saya yang terakhir menjelaskan bahwa saya sedang berpuasa fesbuk. Mungkin kedengarannya lucu, tapi ini sungguh-sungguh terjadi dalam kehidupan saya. Lalu yang menjadi pertanyaan kenapa saya melakukan itu semua? Tidak lain tidak bukan itu karena saya ingin membenahi diri saya. “Ketagihan”, Ya itu merupakan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi pada hidup saya. Seperti lagu yang didendangkan oleh saykoji “online”, menurut saya, saya benar-benar menjadi facebook addicted, benar-benar mabuk FB menurut “kadar” saya. Meski mungkin teman-teman memiliki penilaian berbeda terhadap definisi dan kadar “ketagihan”, namun mungkin sebagian teman-teman juga merasakan hal yang sama dengan saya.

Tentu saja saya yakin teman-teman mengetahui definisi dari Ketagihan. Kalau saya mendefinisikan sendiri, Ketagihan adalah keadaan ketika sudah

mencoba suatu hal kemudian ingin mencobanya lagi, lagi dan lagi tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Saya berpikir berulang kali tentang ”lagi dan lagi” yang tentunya hal ini seperti ”tambah dan tambah lagi”. Tentu saja anak SD baru kelas satu pun akan tahu, ”tambah” dijumlahkan dengan ”tambah” tentu akan berbilang ”banyak”. Namun apa yang terjadi ketika ”tambah” itu mengakibatkan ”kurang” pada hal yang lainnya. Ibarat kalau kita memiliki dua gentong, yakni gentong A dan gentong B. Gentong B ini adalah gentong yang baru saja kita beli, bentuknya sangat menarik, mungkin berrelief indah atau apalah, pada intinya rupanya menarik hati dan menggoda kita untuk mengisinya dengan beras yang kita punya. Akan tetapi beras yang kita punya hanyalah ada digentong A. Ya, mau tak mau isi dari gentong A ini kita relakan untuk dipindah di gentong B. Lalu bagaimana nasib gentong A? sedangkan kita tak pernah mengisinya kembali, hanya mengambil dan mengambil terus untuk dipindahkan ke gentong B, padahal beras di gentong A inilah yang digunakan kita untuk makan sehari-hari. Tentu saja jatah makan kita akan berkurang bukan?? Mungkin kedengarannya ini berlebihan, tapi sungguh saya merasakan ini semua ketika ”alert system” seperti ”ROP system” dari si gentong A ini meraung-raung. Seketika saya tersentak dan tersadar, banyak hal telah terlewati dan tidak saya sadari selama ini bahwa perlahan-lahan FB memepengaruhi hidup saya.

Mungkin teman-teman penasaran, sebenarnya apa yang terjadi pada saya. Disuatu malam, saya sedang tidur-tiduran dikasur sambil memegang handphone. Meminjam istilah seorang teman mengenai FB, saya seperti terkena ”syndrom parkinson”, jari-jari saya yang terus menari pada keypad HP tanpa kontrol dari otak mengetikkan http://www.facebook.com. Tapi saya merasa kesal saat itu karena loading FB ini kok lama sekali. Saking capeknya menunggu, lalu saya mengoceh-ngoceh dan marah-marah sendiri dengan begitu tidak jelasnya. Itu hal yang biasa saya lakukan, tapi malam itu tidak biasa. Tiba-tiba saja, kepala saya berputar dan bertanya-tanya. Mengapa saya mesti kesal? Mengapa saya harus marah? Sebegitu berartinya kah harus online?. Biasanya saya orang yang cuek dalam hal beginian. Biasanya saya tinggal bilang ”tidur aja ah”. Alert system dalam diri sayapun berbunyi, Wow, Wow, sebeginikah saya terkena candu dan magnet FB?? Sejurus kemudian otak saya berputar kembali. Saya penasaran apa saja yang telah dipengaruhi FB dalam hidup saya. Saya pun loncat dari kasur saya, mengambil pensil dan note. Dengan sesekali merenung dan bergumam pada diri saya sendiri, saya kemudian menuliskan apa saja hal yang terjadi pada saya ketika FB mempengaruhi hidup saya. Saya kaget, dalam waktu tidak lama, saya berhasil menuliskan kurang lebih sepuluh prilaku-prilaku saya yang sukses memindahkan beras dari gentong A ke gentong B. Jika saya kategorikan prilaku-prilaku tersebut dalam kaitannya dengan kualitas hidup maka prilaku-prilaku tersebut dapat saya bagi kedalam 3 kategori, kualitas dalam diri, kualitas hubungan saya dengan sesama dan kualitas hubungan saya dengan tuhan.

Bagaimana FB mempengaruhi ketiganya?? Saya sempat tertawa sendiri membayangkannya dengan sesekali teriris meringis karena menyadarinya. Untuk kualitas dalam diri dan kualitas hubungan saya dengan sesama, saya jadi kehilangan adab. Bukan menjadi biadab memang, tapi sopan santun mendasar yang ditanamkan orang tua saya hilang begitu saja. Misalkan saja adab makan, sambil makan dengan lahap mata sayapun tetap tak beralih dari layar monitor. Begitu juga dengan kualitas hubungan saya dengan sesama, misalkan saja ketika tante saya memanggil dan menanyakan tentang suatu hal sayapun menjawab tanpa menatapnya. Ya, lagi, lagi dan lagi dengan tetap menghadap layar monitor. Itupun kadang sambung kadang juga tidak dengan pernyataan yang dilontarkan. Alhasil jurus seribu untuk menghindari tante saya marah adalah dengan mengatakan ”maaf saya tidak tahu”. Astagfirullah, begitukah cara saya memperlakukan orang yang lebih tua dari saya?. Belum lagi mengenai janji, saya pernah datang terlambat memenuhi suatu janji akibat saya keasikan online. Meski teman saya masih memaklumi tapi sungguh saya tidak enak hati. Bukan hanya itu saja, saya memang bukan penggila game di FB, tapi saya paham betul dalam Ber FB ria, tidak asyik kalo kita tidak saling memberikan komentar terhadap status teman. Entah kita yang memberi komentar atau yang diberi komentar, pastinya ada sedikit dari kita yang merasa harap-harap cemas atau menunggu counter komentar yang akan diterima. Nah, disinilah saya menyebut ”sihir kata” mulai beraksi. Dahsyat memang efek dari kata-kata yang dibuat, karena kadang-kadang membuat perasaan begitu mudah penasaran sehingga terpancing, tergelitik, dan tergoda untuk memberikan komentar. Parahnya lagi saya adalah orang yang ”sedikit” usil, saya mudah tergoda untuk memberikan komentar atas status teman saya. Namun demikian pula efek dari kata-kata yang ”tertulis” pastinya berbeda dengan ungkapan ”lisan” yang disertai ”intonasi” dan lebih lagi ”bahasa tubuh”. Jika kita tidak hati-hati, pernyataan tertulis itu akan memberikan maksud ambigu yang kemudian akan mangakibatkan teman-teman dalam FB menjadi tersinggung. Contohnya saja, saya pernah berkomentar terhadap teman saya seperti ini Widih, Si A bergaya bak superman atau lebih mirip doberman yang mau memangsa? Hahahahaha Pizzz ^^V. Sekilas maksud saya adalah bercanda, namun entah teman saya yang dikomentari akan berpikiran apa, mungkin saja dia merasa tersinggung. Belum lagi ingatan saya agak kuat dalam hal ini, saya dapat mengingat apa saja komentar-komentar yang masuk dalam suatu status dimana saya ikut berkomentar disana. Suatu waktu, saya tahu ada komentar dari saya yang dihapus oleh teman saya. Dan dari sanalah kemudian saya berpikir, mungkin saya telah menyinggung perasaanya.

Dalam kualitas hubungan saya dengan Tuhan, tidak kalah parah dengan kedua kualitas hidup sebelumnya. Sebenarnya ada banyak faktor yang mempengaruhi kualitas hubungan saya dengan Tuhan, namun menurut saya FB juga memiliki andil, saya jadi malas baca Al-Qur’an sehabis sholat fardhu shubuh dan maghrib, padahal dulu ini adalah hal rutin yang saya lakukan. Bahkan sehabis sholat fardhu, saya langsung loncat ambil HP saya untuk online tanpa do’a dan dzikir terlebih dulu. Astaghfirullah, saya bergumam berkali-kali, beginikah aku menduakanMu Tuhan? Saya akui efeknya memang hebat, bagaimana tidak? saya yang tidak biasa bangun jam 3 pagi, dengan alasan mengerjakan tugas (maklum mahasiswa) yang mengharuskan online namun ujung-ujungnya online FB, mampu membangunkan saya pada waktu tersebut. Hingga keluarlah istilah ”ngeBATMAN” yakni istilah yang saya gunakan bersama teman-teman saya yang suka online di malam hari. Saya bukan orang yang jago dalam hal agama tapi saya paham betul adalah hal yang merugi jika tidak memanfaatkan kebiasaan bangun malam untuk shalat malam. Tante sayapun sudah berulangkali mengingatkan, ”dibuka dulu dengan shalat malam, nduk”. Yah, tapi dasar sayanya aja yang super duper nduablek, saya cuma mesam mesem nyengir kuda waktu diingatkan seperti itu.

Ya itulah sekilas gambaran bagaimana FB mempengaruhi hidup saya. Setelah membaca ini, mungkin teman-teman akan berpikir bahwa saya tidak akan ber FB lagi dan Pro akan diharamkannya FB. Tidak, saya tidak begitu, yang saya ungkapkan diatas hanyalah sisi negatifnya saja. Tentu saja menurut ”kadar” yang saya tetapkan. Yakni ”cut off value” dimana saya dapat berpikir satu hal berefek buruk pada hidup saya atau tidak. Saya juga cukup menyadari bahwa banyak hal positif yang dapat diambil dari situs pertemanan tersebut. Misalkan saja dalam menjalin silaturahmi terhadap teman. Hal ini bagus sekali kalau saya pikir. Yang tidak saya ketahui tentang teman saya, saya bisa mengetahuinya melalui FB. Tidak jarang dalam hati saya terlontar beberapa komentar seperti :

Oh, mbak ini mau menikah, wah berita bahagia ini…semoga jadi keluarga sakinah…
Oh, bapak si A meninggal nih…Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun, kapan ngelayatnya ya?
Eh, si B keterima kerja di perusahaan ini… keren….Alhamdulillah….

Hal-hal tersebut mungkin saja tidak saya dapatkan jika hanya mengandalkan telepon dan sms yang biasanya hanya akan terjalin kontak ketika orang itu adalah orang dekat atau kita sedang butuh dirinya karena suatu hal. Belum lagi sharing teknologi, advertising, sharing berita dan lain-lain sebenarnya merupakan efek positif adanya FB. Ingin berbagi cerita mengenai keadaan kita, memberikan komentar pada seseorang merupakan hal yang lumrah dilakukan manusia karena pada dasarnya manusia makhluk sosial yang tak pernah lepas dari kata ”komunikasi”. Namun demikian, ketika rasa ”ketagihan” menurunkan kualitas diri kita, kualitas hubungan kita dengan sesama dan kualitas hubungan kita dengan Tuhan maka seharusnya kita dapat waspada dan cepat tanggap terhadap ini semua. Apalagi teman-teman yang baru saja memulai berfesbuk ria. Jangan sampai penurunan ini terjadi dan terus menerus berlanjut hingga baru kita sadari nantinya bahwa kita telah menyia-nyiakan waktu kita dengan percuma dan juga mengabaikan kualitas dalam diri. Lebih lagi, yang terpenting, menurut saya adalah pengendalian dan kedisiplinan diri. Untuk mensiasati ini semua saya sedang memperbaiki dan membangun ulang kedisiplinan dalam diri saya dan mengendalikan diri saya (istilah saya puasa fesbuk) dengan harapan saya dapat memanfaatkan situs pertemanan FB ini dengan sebagaimana mestinya.

Ceprit Said :
Tulisan diatas tidak bermaksud untuk menghasut serta menyalahkan, namun hanya ingin memberikan gambaran dan siapa tahu mungkin bisa dijadikan sebagai bahan pelajaran dan perenungan dalam hidup.

Add to FacebookAdd to DiggAdd to Del.icio.usAdd to StumbleuponAdd to RedditAdd to BlinklistAdd to TwitterAdd to TechnoratiAdd to FurlAdd to Newsvine

4 responses

  1. t_pau69

    korelasi antara FB dan kualitas diri dalam ber”hubungan”. suatu ide yang menarik,dan pastinya sekarang sedang menjadi tren di manapun sampai-sampai saykoji bikin lg judulnya On-Line. ckckck..saya juga pernah mengalami hal itu beberapa saat lalu,tap alhamdulillah sekarang sudah berkurang. kalo melihat kecanduan yang penulis alami sudah dalam kategori akut (pizz). kalo boleh menganalisa apa yang trjadi pada penulis juga dikarenakan habit dari penulis yang suka OL.hal tersebut mempengaruhi sekian % dari tingkat keseringan orng ter serang Fb addict. sedikit saran kurangi OL dengan kegiatan di luar rumah…mungkin itu aja dulu…

    July 13, 2009 at 3:49 AM

    • dazzdays

      Ya, itu memang benar. Berawal dari OL, tapi gak tau kenapa OL di FB begitu berbeda. Tapi idenya boleh juga tuh mas,, saya pake deh …hehehehe

      July 13, 2009 at 4:01 AM

  2. indah apriliana

    bagus langkah mu fit… puasa dulu. Dulu aku juga berpikir “si fitri ini tiap hari OL FB,” seolah2 FB adl tmptmu melaporkan semua kegiatan mu sehari2. bener juga, ada korelasi yang kuat antara FB dgn kualitas diri. yang sehrsnya kita mau browse tgs di intrnt malah jd ga enak klo ga OL FB dulu. apa2 dimulai dgn OL FB dulu, tugas blm selesai-yg pntg dah update status FB. ya itu yg membuat kualitas diri menurun. ga tau knp, saat ini aku juga sdh mulai malez up date status. aku biarin aja berhari2 ga aku buka. aku dukung tindakanmu fit… bagus juga…

    July 13, 2009 at 4:26 AM

    • dazzdays

      thx for your support…

      July 13, 2009 at 4:36 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s