Always run back to the future …..

Sekilas : SCOR (Supply Chain Operation Reference Model) Intro


Pengukuran kinerja dari suatu sistem sangatlah penting demi terus berlangsungnya proses improvement kearah yang lebih baik. Pengukuran kinerja ini dilakukan untuk mengetahui apakah tujuan dari sistem yakni bisnis, perusahaan maupun lembaga-lembaga lainnya seperti pemerintahan dll sudah sesuai dengan target/hasil yang diinginkan. Mengingat pentingnya pengukuran kinerja, kini banyak pihak-pihak yang telah mencetuskan beberapa metode mengenai pengukuran kinerja ini seperti BALANCED SCORECARD, PRISM, IMPS dll. Namun demikian, metode pengukuran kinerja ini hanya berfokus pada aktivitas-aktivitas dari internal suatu bisnis, lembaga atau perusahaan saja. Jika melihat secara keseluruhan dalam kacamata supply chain dimana ultimate goal dari pengukuran kinerja bukanlah hanya kesuksesan dari satu internal business saja melainkan kesuksesan keseluruhan rantai pasoknya (supply chain). Tentu saja,  metode-metode sebelumnya yang  hanya berfokus pada internal business saja, jika digunakan untuk mengukur kinerja aktivitas yang berkaitan dengan logistics dan Supply Chain kurang dapat mengakomodasi dengan baik. Terutama aktivitas yang berkaitan dengan link-link yang menghubungkan antara bisnis yang satu dengan yang lainnya hingga membentuk suatu supply chain. Untuk itu dibutuhkan suatu metode yang secara khusus dapat digunakan mengukur kinerja dari suatu supply chain. Dalam postingan kali ini, disini akan dibahas suatu metode pengukuran kinerja untuk supply chain yakni SCOR. Untuk lebih jelasnya ….Selamat membaca :) 

Sejarah SCOR

SCOR (Supply Chain Operations Reference Model) merupakan suatu referensi model yang digunakan untuk mengukur kinerja dari Supply Chain. SCOR ini di kembangkan oleh Supply Chain Council (SCC) yakni suatu lembaga nonprofit yang didirikan pada tahun 1996 dan diprakarsai oleh beberapa organisasi/perusahaan seperti Bayer, Compaq, Procter & Gamble, Lockheed Martin, Nortel, Rockwell Semiconductor, Texas Instruments, 3M, Cargill, Pittiglio, Rabin, Todd, & McGrath (PRTM), dan AMR (Advance Manufacturing Research).  Pada awal berdirinya council ini memiliki anggota sebanyak 69 perusahaan, namun saat ini anggotanya telah mencapai 1000 perusahaan.

Sejak berdirinya SCC, Council ini memiliki tujuan yakni mengembangkan suatu model acuan standar dari supply chain process yang memungkinkan terjalinnya komunikasi efektif antara supply chain partner dengan :

  1. menggunakan terminology standar untuk komunikasi yang lebih baik dan mempelajari isu-isu supply chain
  2. Menggunakan ukuran standar untuk membandingkan dan mengukur kinerja dari supply chain.

Kerangka SCOR

SCOR mengkobinasikan beberapa elemen yakni Business Process Engineering, benchmarking dan aplikasi-aplikasi yang mengarah kepada suatu kerangka. Gambar 1. menunjukkan process reference model dari integrasi ketiga elemen diatas. Secara hierarki, model SCOR supply chain management terdiri dari proses-proses detail yang saling terintegrasi dari supplier-nya supplier sampai customer-nya customer dimana semua proses tersebut searah dengan strategi operasional, material, kerja dan aliran informasi perusahaan seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.

Gambar 1. Process Reference Model

Gambar 2. Integrasi kelima proses dalam SCOR

Kerangka pada gambar 2 tersebut mengintegrasikan dua konsep penting dalam pengelolaan kinerja yakni performance measurement dan performance improvement. Dari sudut pandang performance measurement, kerangka tersebut mencakup semua aspek dari kumpulan performance measure, measure dependencies sampai metode evaluasi. Sementara dari sudut pandang performance improvement, kerangkat tersebut membentang di seluruh siklus performance improvement untuk supply chain termasuk didalamnya langkah-langkah pemodelan, pengukuran, analisis dan improvement. Adapun penjelasan mengenai langkah-langkah tersebut dijelaskan dibawah ini

A. Membangun Model Kinerja

Pada tahap ini model dari kinerja dibuat. Model kinerja ini terdiri dari tiga aspek yakni (1) desain dari pengukuran kinerja, didalamnya terdapat sebuah pengukuran terstruktur yang seimbang, definisi dari ukuran dan perhitungan pengukuran serta metode pengumpulan data (2) Measure dependencies memetakan hubungan anatra ukuran-ukuran kinerja yang merupakan dasar dari analisa selanjutnya.

B. Mengukur Kinerja Supply Chain

Proses pengukuran kinerja didalamnya terdiri dari perhitungan ukuran dan evaluasi kinerja. Ukuran-ukuran dapat dihitung berdasarkan definisi – definisi proses dan data sebenarnya yang diambil dari supply chain. Evaluasi kinerja adalah sebuah proses pemberian bobot pada berbagai macam ukuran kinerja untuk mempresentasikan tingkat kepentingan dari setiap dimensi yang diukur.

C. Analisa Kinerja

Pada tahap ini akan menghasilkan beberapa metode analisis kinerja untuk pengambilan keputusan dan perbaikan yakni gap analysis, prioritas ukuran dan analisis sebab akibat.

D. Improvement

Berdasarkan pengukuran dan analisis kinerja, improvement disini dapat dibagi menjadi dua subdivisi utama. Pertama, dengan menganalisa tingkat kepentingan dan hubungan antara ukuran-ukuran kinerja.  Kedua dengan gap analysis dan process reengineering, dapat meningkatkan  kinerja dari supply chain yang sesungguhnya.

SCOR model memainkan sebuah peranan yang penting dalam kerangka tersebut. SCOR tidak hannya menghasilkan struktur  dan acuan aturan yang terdefinisi dengan baik untuk mengukur kinerja dari desain namun juga pendekatan benchmark untuk gap analysis dan pendekatan best practice untuk improvement.

Proses dalam SCOR terdiri dari 3 level. Level 1 adalah top level yang terdiri dari 5 proses kunci yakni PLAN, SOURCE, MAKE, DELIVER dan RETURN. Level 1 metrik mengkarakteristikan kinerja berdasarkan dua perspektif. Perspektif pertama adalah dari sisi customer dan perspektif yang kedua adalah berdasarkan perspektif internal. Pada level ini, dilakukan pendefinisian tentang  kompetisi dasar yang ingin dicapai beserta petunjuk dan cara bagaimana dapat memenuhi kompetisi dasarn tersebut. Adapun penjelasan dari kelima  proses pada level 1 adalah sebagai berikut:

  • Plan, merupakan proses yang menyeimbangkan permintaan dan pasokan untuk menentukan tindakan terbaik dalam memenuhi kebutuhan pengadaan, produksi, dan pengiriman. Plan mencakup proses menaksir kebutuhan distribusi, perencanaan dan pengendalian persediaan, perencanaan produksi, perencanaan material, perencanaan kapasitas, dan melakukan penyesuaian supply chain plan dengan financial plan
  • Source, yaitu proses pengadaan barang maupun jasa untuk memenuhi permintaan. Proses yang tercakup meliputi penjadwalan pengiriman dari supplier, menerima, mengecek, dan memberikan otorisasi pembayaran untuk barang yang dikirim supplier, memilih suplier, mengevaluasi kinerja supplier,dll. Jadi proses bisa berbeda tergantung pada apakah barang yang dibeli termasuk stoked, make-to-order, atau engineer-to-order products.
  • Make, yaitu proses untuk mentransformasi bahan baku/komponen menjadi produk yang diinginkan pelanggan.Kegiatan make atau produksi dapat dilakukan atas dasar ramalan untuk memenuhi target stok (make-to-stock), atas dasar pesanan ( make-t- order ), atau engineer-to-order. Proses yang terlibat disini adalah penjadwalan produksi, melakukan kegiatan produksi dan melakukan pengetesan kualitas, mengelola barang setengah jadi, memelihara fasilitas produksi, dll
  • Deliver, yang merupakan proses untuk memenuhi permintaan terhadap barang maupun jasa. Biasanya meliputi order management, transportasi, dan distribusi. Proses yang terlibat diantaranya adalah menangani pesanan dari pelanggan, memilih perusahaan jasa pengiriman, menangani kegiatan pergudangan produk jadi, dan mengirim tagihan ke pelanggan.
  • Return, yaitu proses pengembalian atau menerima pengembalian produk karena berbagai alasan Kegiatan yang terlibat antara lain identifikasi kondisi produk, meminta otorisasi engembalian cacat, penjadwalan pengembalian, dan melakukan pengembalian. Post-delivery-customer support juga merupakan bagian dari proses return.

Level 2 merupakan level konfigurasi dan berhubungan erat dengan pengkategorian proses. Pada level 2 ini dilakukan pendefinisian kategori – kategori terhadap setiap proses pada level 1. Pada level ini, proses di susun sejalan dengan strategi supply chain. Tujuan yang hendak dicapai pada level 2 ini adalah menyederhanakan supply chain dan meningkatkan flexibility dari keseluruhan supply chain. Pada level 2 ini, kendala market, kendala produk dan kendala perusahaan untuk menyusun proses inter dan intra- perusahaan.

Level 3 adalah level elemen proses dan merupakan level paling bawah dalam lingkup SCOR model. Pada level implementasi, yakni level yang berada dibawah level 3, elemen proses diuraikan kedalam task dan aktivitas lanjutan. Level implementasi ini tidak mencakup dalam lingkup SCOR model. Level 3 mengijinkan perusahaan untuk mendefinisikan secara detail proses-proses yang teridentifikasi begitu juga dengan ukuran kinerja dan juga best practice pada setiap aktivitas. Level kinerja dan  practices didefinisikan untuk proses-proses elemen ini. Dalam level ini, Benchmarking dan atribut –atribut yang diperlukan juga dibutuhkan untuk enabling software. Pada level 3 juga disertakan input output dan basic logic flow dari elemen-elemen proses.

Pada level 4, implementasi dari supply chain mengambil peran. Pada level ini digambarkan secara detail tugas-tugas didalam setiap aktivitas yang dibutuhkan pada level 3 untuk mengimplementasikan dan mengelola supply chain berbasis harian.

Ada tiga tipe proses dalam SCOR model: planning, execution dan enable. Proses planning merencanakan keseluruhan supply chain sejalan dengan perencanaan spesifik tipe dari execution process. Proses eksekusi mencakup semua kategori proses yang terdiri dari source, make, deliver dan return kecuali kategori enable process. Enable process dari suatu elemen proses tertentu. Dengan menggunakan ke empat level SCOR model, suatu bisnis dapat dengan cepat dan tepat mendeskripsikan supply chain-nya. Suatu supply chain yang didefinisikan menggunakan pendekatan ini dapat juga di modifikasi dan disusun ulang dengan cepat sesuai dengan perubahan permintaan bisnis dan pasar. Model SCOR memiliki suatu peran yang kuat dalam pelaksanaan supply chain. Model SCOR level 1 dan 2 menjaga manajemen untuk tetap fokus. Sedangkan level 3 mendukung adanya diagnosis.

Metric dalam SCOR

Metrik adalah sebuah pengukuran kinerja standar yang memberikan dasar bagaimana kinerja dari proses-proses dalam supply chain di ebaluasi. Pengukuran kinerja ini harus reliable dan valid. Reliability berkaitan dengan bagaimana kekonsistenan research instrument. Sedangkan validitas berkaitan dengan apakah variable telah didefinisikan secara tepat dan representative.

Meskipun SCOR model menyediakan berbagai variasi ukuran kinerja untuk mengevaluasi supply chain, namun SCOR tidak mengindikasikan apakah ukuran tersebut cocok untuk semua tipe industri. Karenanya penyesuaian atau kustomisasi terhadap SCOR model terkadang dibutuhkan. Pemilihan ukuran kinerja yang cocok disini dilakukan  untuk tiap elemen proses termasuk untuk kinerja dari supply chain. Perhitungan dari sebuah metric mungkin tergantung tidak hanya pada process data item namun juga perhitungan secara detail pada level yang lebih rendah.

Versi terakhir dari SCOR model mencakup 9  kinerja pada metrik level 1. Setiap metrik dari SCOR model berasosiasi secara tepat pada salah satu dari atribut kinerja yakni :

  1. Supply Chain Reliability berkaitan dengan keandalan
  2. Supply Chain Responsiveness berkaitan dengan kecepatan waktu respon setiap perubahan
  3. Supply Chain flexibility berkaitan dengan keflesibelan di dalam menghadapi setiap perubahan
  4. Supply Chain Cost berkaitan dengan biaya-biaya di dalam Supply chain
  5. Efisiensi dalam pengelolaan asset berkaitan dengan nilai suatu barang

Adapun asosiasi antara metrik dan atribut kerja pada level 1 dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 4. Level 1 Performance Metrics

Dari metrik level 1 yang ada pada model SCOR dibagi lagi menjadi 9 metrik, misalnya customer-facing, yang artinya penting bagi pelanggan, dan ada juga internal-facing, yang artinya penting untuk monitoring internal, tetapi tidak langsung menjadi perhatian pelanggan, seperti dalam Gambar 4. Sebagai contoh, pelanggan sangatberkepentingan terhadap kinerja pengiriman, keterlambatan dan kerusakan saat proses pengiriman menjadi perhatian sangat penting bagi pelanggan sehingga delivery performance adalah metrik yang customer-facing. Sebaliknya pelanggan tidak perlu repot memonitor jumlah persediaan yang dimiliki pelanggan, tetapi secara internal perusahaan sangat berkepentingan untuk memiliki jumlah persediaan yang cukup dan tidak berlebihan, sehingga inventory days of supply yang merupakan ukuran tingkat persediaan, merupakan metrik yang internal-facing. Setelah metric dari level 1 di tentukan, kemudian dilakukan generate metric level dua dengan menganalisis SCOR  proses yang telah dibuat sebelumnya.

END.

Daftar Pustaka :

1. Supply Chain Council

2. IBM research report
A-SCOR Based Framework for Supply Chain Performance Management
Oleh : Changrui Ren, Jin Dong, Hongwei Ding dan Wei Wang

Oleh : Dazzdays, Ahmad Fatih Fudhla, Moch. Anshori

13 responses

  1. wew… makasi banyak infonya tentang SCORmodel..
    kebetulan saya ada tugas untuk pura2 menganalisa kinerja perusahaan dengan menggunakan SCOR model. tapi, berhubung bukunya bahasa inggris,, saya gag ngerti maksudnyah… hahaha
    yang saya ingin tanyakan, bisa gag sih SCOR model itu digunakan untuk menganalisa kinerja perusahaan jasa??

    December 22, 2009 at 10:15 PM

  2. muslimah

    terima kasih byk y…

    June 1, 2010 at 11:22 PM

    • dazzdays

      sama-sama🙂

      June 2, 2010 at 5:02 AM

  3. joe

    mantapp mas…

    btw, boleh gk saya minta definisi atribut tiap butir scor?

    terima kasih mas sebelumnya.
    salama kenal.
    ^_^

    -joe-

    September 29, 2010 at 2:59 AM

  4. Good Book to read by anybody who is interested with Supply Chain SCOR.

    Maybe someone can download and read overall this book and get the conclusion.

    http://www.4shared.com/document/Jv0gEVzY/Supply_Chain_Excellence_-__SCO.htm

    September 30, 2010 at 3:48 PM

  5. Roni

    sebenarnya SCOR ini sebuah tool atau software???

    saya bingung

    May 6, 2011 at 6:39 AM

  6. dody

    terima kasih atas infonya…berhubung topik skripsi saya mengenai SCOR, saya ingin menanyakan bagaimana cara menurunkan KPI tiap perspektif dalam SCOR? soalnya saya kesulitan dalam penentuan KPInya.
    terima kasih sebelumnya.

    June 16, 2011 at 8:25 AM

  7. donny

    terima kasih banyak atas infonya.. ini akan berhubungan dengan Tugas Akhir saya.. bisakah saya minta contact yang menguasai SCOR model? karna saya membutuhkan bantuannya.. terima kasih

    October 11, 2011 at 9:19 AM

  8. ada yang punya Link jurnal yang lengkap dan OK mengenai metode SCOR?? saya sangat butuh sekali, untuk bahan TA saya🙂

    January 13, 2012 at 4:04 AM

  9. iqbal

    tau informasi tentang buku SCOR yang dijual ngak ??
    soalnya susah carinya dimakassar…

    January 21, 2013 at 1:31 PM

  10. Pingback: Supply Chain Management! | Learn and Share

  11. Wah, ini dia, bagus artikelnya, oh iya, saya punya pertanyaan, pertanyaannya sama dengan dua komentar di atas saya, hehe🙂 makasih

    March 30, 2013 at 11:06 AM

  12. Bisakah bantu saya dalam menggunakan metode SCOR

    February 6, 2014 at 4:32 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s