Always run back to the future …..

Bolehkah Perempuan Melamar Lelaki?


Dikutip dari surat pembaca pada rubrik konsultasi keluarga majalah suara hidayatullah edisi bulan Dzulhijah 1430 H Dalam beberapa hal syariat islam memberi hak yang sama antara perempuan dan lelaki. Dalam hal berbuat kebaikan 9amal saleh) Allah SWT tidak membedakan, apakah pelakunya lelaki atau perempuan, akan diganjar dengan pahala yang sama. Allah SWT menegaskan :

“Barangsiapa yang mengerjakan amal -amal saleh, baik lelaki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk kedalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (An-Nisaa [4] : 124)

Berikhtiar untuk mendapatkan jodoh merupakan amal saleh, sebagaimana juga menikah merupakan amal yang terpuji. Dalam hal ini, tidak ada halangan bagi kaum perempuan untuk melamar lelaki, sebagaimana lelaki tidak ada larangan untuk melamar wanita yang dicintainya. Syariat Islam memberi hak yang sama antara laki-laki dan perempuan. Kalau boleh disebut halangan, satu-satunya halangan perempuan melamar lelaki idamannya adalah “gengsi” atau “harga diri”. Bagi sebagian orang konon katanya menjunjung tinggi nilai dan adat ketimuran, perbuatan ini dianggap “aib” atau menyalahi adat. Aib itu tidak saja disandang oleh perempuan sebagai individu, tapi juga bagi keluarganya. Inilah penghalang utama dan satu-satunya bagi perempuar yang hendak melamar lelaki. Yang aneh, mengapa para perempuan banyak menuntut emansipasi dan persamaan hak disegala bidang, tapi setelah diberi kesempatan dan hak yang sama dalam hal “melamar” justru dihindari? Mengapa untuk sebuah kebaikan dan kemaslahatan hidup dapat dikalahkan oleh gengsi? Persoalannya kembali kepada masing-masing individu, apakah ia lebih mengutamakan gengsi atau kebahagiaan hidup yang sejati?

Adalah khadijahh binti Khuwailid, perempuan yang tidak ragu-raguuntuk melakukan hal tersebut. Beliau adalah perempuan cantik, kaya dan terhormat. beliau menepis gengsinya demi mempersunting lelaki yang dimatanya terdapat tanda-tanda kemulaiaan dan kematangan pribadi. Lelaki itu tidak lain adalah Muhammad SAW. Khadijah sangat terpikat dengan kemuliaan akhlak dan budi pekertinya. nafisah binti Munabih menangkap kegalauan dan kebimbangan Khadijah, teman dekatnya. ia pun memberanikan diri untuk diutus menemui orang yang sangat dicintainya. Setelah sepakat, berangkatlah Nafisah menemui Muhammad Al-Amin. singkat cerita Muhammad menerima lamaran itu dan kemudian mereka menikah.

Dari kisah ini, kita bisa mengambil ibrah bahwa gengsi dan harga diri itu bisa ditepis atau dikesampingkan. Justru yang harus dipegang teguh adalah syariat. Jika syariat tidak menghalangi, mengapa harus gengsi? Apalah artinya menjaga gengsi dan harga diri jika taruhannya justru neraka ?(ceprit comment : mungkin maksudnya membiarkan berlama-lama menjalin hubungan tanpa adanya status pernikahan) ? Memang gengsi dan harga diri itu perlu, tapi tetap harus diposisikan pada tempatnya. Diasuh Oleh : Ustadz Hamim Thohari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s