Always run back to the future …..

Ada Beda


imageYapzz, kita ketemu lagi di Dazzdays. Kali ini saya mau cerita tentang pengalaman saya baru-baru ini. Beberapa hari terakhir banyak pertanyaan-pertanyaan muncul dikepala saya. Ini berawal dari kehidupan baru yang saya alami tapi juga berkaitan dengan pengalaman masa lalu. Dulu sekali, waktu zaman kuliah, saya punya satu orang sahabat sebut aja Ms. L. Nah, orang ini betul-betul super pintar. IPK nya aja selangit. Salut saya. Pelajaran apapun dibabat sama dia. Orangnya baik,  suka membantu orang lain dan saya angkat jempol untuk kegigihannya dalam hidup. Dan kali ini, saya juga menemukan seorang kenalan. Menurut saya dia sangat cerdas. Kalau dia berbicara, bagai terseret kedunia filsafat. Sungguh saya merasa bisa melihat dunia dari cermin yang lain. (lebay😀 ). Anggap saja saya mengagumi keduanya. Tapi, sayang sungguh disayang, antara saya dan mereka, kami memiliki perbedaan dalam keyakinan. Inilah salah satu yang memicu pertanyaan yang terus berkecamuk dikepala saya.

“Saya bertanya pada Tuhan, mengapa tuhan menciptakan perbedaan? Mengapa tak semua orang memulai hidup dengan bekal yang sama? Tapi tuhan menciptakan manusia dengan awal hidup yang berbeda? Seandainya hidup dapat diminta, sebelum lahir kedunia tak ada yang mau dilahirkan dari keluarga yang tidak menganut ajaran tuhan yang sesungguhnya. Semua pasti ingin menuju jalan yang benar tanpa harus terlebih dahulu terjerembab jalan yang salah. Saya bertanya-tanya, apakah ini berkaitan dengan misi dalam hidup yang masing-masing kita emban sebagai manusia?. Karena saya percaya bahwa setiap manusia yang lahir kedunia mengemban satu amanah di pundaknya. Dan apakah amanah kita sebagai manusia berbeda-beda? Saya, yang lahir di keluarga muslim, apa misi saya dalam hidup ini? Dan mereka yang terlahir di keluarga non muslim apa misinya dalam hidup mereka?. Saya paham, bahwa sebelum manusia lahir ke dunia, mereka telah diikat perjanjian oleh Tuhan mereka bahwa mereka tidak akan mengingkari eksistensi Tuhan mereka. Sejatinya mereka akan mengikuti dan mencari kebenaran hakiki yakni kebenaran yang menuju jalan Tuhannya. Namun, mengapa justru kita lahir kedunia dengan berbeda-beda dan ketentuan itu tidak dapat dipilih. Ya, tidak ada yang bisa memilih untuk dilahirkan dari keluarga dengan agama ini atau agama itu bukan?. Dan tentu saja, didunia ini, saya percaya hanya ada satu saja agama yang benar. Beruntunglah bagi yang dilahirkan dengan agama yang benar karena baginya akan lebih mudah mengenal Tuhan yang sesungguhnya ketimbang yang beragama lain. Karena bagi mereka yang terjarat dalam agama lain, umumya mindset mereka telah terdoktrin oleh agama yang dianutnya bahwa agamanya adalah yang paling benar (sayapun juga demikian). Artinya proses mencari tuhan yang sesungguhnya akan menjadi lebih sulit baginya. Lalu apa akibatnya jika sampai mati mereka yang tidak menganut agama Tuhan yang sesunggunya dan tidak menemukan jalan titik terang, apakah mereka akan dihukum? Sungguh kasihan bukan?”

Ya itulah beberapa pertanyaan yang ada dikepala saya yang sampai saat ini saya tidak tahu apa jawabannya karena logika saya yang terbatas ini. Hanya saja, saya merasa sedih. Saya teringat satu kisah di Tahun penuh duka yang dialami oleh Nabi Muhammad S.A.W. Ketika nabi ditinggal wafat oleh Paman yang sangat dicintainya, Abu Thalib yakni salah seorang yang selalu membela Nabi dalam berdakwah. Namun sayang disayang, Nabi mendoakan beliaupun tak ada gunanya karena beliau tak pernah sekalipun mengucap syahadat. Sedikitnya saya jadi mengerti bagaimana rasa sedih dan rasa menyayangkan yang dialami Nabi saat itu mengingat pengalaman saya yang sebelas duabelas mirip dengan kisah tersebut. Saat ini, melalui tulisan ini, saya hanya bisa berkata,

Teruntuk kawan-kawanku yang kusayang, meski masih tak kutemukan jawaban atas dasar apa perbedaan ini ada. Namun padaNya tetap kumunajatkan do’a untukmu, semoga engkau senantiasa diberikan petunjuk dan keselamatan. Sungguh meski kita berdiri di jalan yang berbeda, tapi kau yang hadir dalam persimpangan hidupku, meskipun hanya sekejap, tlah membawa begitu banyak kebaikan untukku. Terimakasih.

One response

  1. ike

    I have exactly the same question since i was at elementary school😀. And we have the same pray.
    I come to the conclusion that God is God, if God’s wisdom as simple as human’s then It is not god.
    Our part is to do HABLUMMINALLAH HABLUMINANNAS. As i know (correct me if i wrong) the concept of hablumminAllah is our private relationship with God, and habluminannas is the way we have good relationship with people which bring us to the better relationship with God (not mention about people w/ the same religion, and sometimes people with the same religion do not give us this essential point).
    And I believe that God’s mercy much bigger and higher than human’s. When one people has the level mercy like you do, then God has millions times even more.

    May 6, 2012 at 11:47 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s