Always run back to the future …..

Kembalikan Tepo Seliro


image

Sebelum baca postingan dibawah ini, cobalah tengok tulisan berikut ini :

http://www.rappler.com/world/regions/asia-pacific/indonesia/79369-bagaimana-media-seharusnya-meliput-berita-kecelakaan-atau-bencana-alam?utm_source=twitter&utm_medium=share_bar

Ah sudah baca? Bagaimana pendapat kalian?

Aku anggukan kepalaku atas apa yang aku tangkap dari artikel di atas. Meskipun aku bukanlah wartawan tapi artikel di atas cukup menyudutkanku, membawa ke permukaan yang kusebut pencerahan.  Ya, menurutku tidak lain tidak bukan apa yang diungkapkan artikel tersebut membuktikan benar adanya kemunduran moral dan hilangnya rasa kemanusiaan dari bangsa kita. Bangsa yang mengaku menjunjung tradisi timur yang terkenal dengan  berbudipekerti luhur.

Membaca artikel di atas sekilas mengingatkanku pada masa SD. Bagiku ada satu pelajaran yang menurutku paling membosankan. Apa itu? PPKn. Mengapa? Simple, karena tak ada tantangan. Seolah semua bisa kupahami dengan mudah. Dan aku merasa semua orang tanpa belajarpun tahu itu. Tapi kini kusadari bahwa aku telah keliru atas rasa bosanku tersebut. Memang bukan persoalan logikalah yang dominan diuji di mata pelajaran tersebut, melainkan persoalan RASA yakni rasa kemanusiaan dari seorang siswa yang notabene adalah seorang manusia.

Entah dimana letak kesalahan akan pendidikan formal dan informal (baca:kemasyarakatan) yang kukenyam sehingga munculah manusia sepertiku. Manusia yang dalam bermasyarakat hanya sekedar TAHU akan nilai-nilai kemanusiaan namun dengan pengalaman praktek NIHIL.

Apa mungkin karena banyak orang sepertiku yang terlalu sibuk memutar otak tuk penuhi ego tanpa indahkan rasa sehingga perlahan-lahan tepo seliro yang digadang-gadang sebagai permata jati diri bangsa tanpa disadari memudar tak lagi berbekas. 

Apakah perlu memutar waktu kembali ke jaman perang dengan celurit dan tombak untuk sadarkan manusia sepertiku? Mungkin manusia sepertiku bisa dikatakan cerdas karena mungkin pandai dalam berhitung untung dan rugi atau mampu melihat peluang tapi kalau dikatakan berakhlak? berperikemanusiaan yang beradab? Oh tunggu dulu.

Dahulu di jaman perang kita mati-matian bela saudara sebangsa karena rasa senasib sepenanggungan, tapi kini bangkai saudarapun kita kunyah demi sesuap nasi. Sebegitu hinakah kini hasrat untuk memenuhi ego bertahan hidup? Hingga melukai perasaan sesamapun dilakoni.

Setiap profesi memiliki etika. Etika tersebut tidaklah sembarangan dicetuskan. Etika profesi tentu dibuat dengan menjunjung nilai kemanusiaan. Tapi dimana kini peran etika profesi? Etika profesi hanya jadi janji manis. Dibandingkan urusan perut, etika profesi menduduki urutan sekian dan sekian.

Hei, hei, ayolah, mari berpikir dan resapi dimana letak kesalahan ini? Seolah hal ini telah mendarah daging. Hingga dibuatnya sistem dan peraturan bermacam-rupapun tak mampu menembus dan mengenyahkan krikil hati yang menutupi nilai-nilai kemanusiaan yang sesungguhnya secara tak sadar tak pernah hilang karena hanya tertutupi. Ya, aku, kamu manusia yang sepertiku, sesungguhnya hanya perlu memaksimalkan HATI untuk jadi manusia yang memang layak disebut sebagai manusia.

Note :
Ah, mohon maaf bila ada hal yang menyinggung atas tulisan menggebu-gebu ini. Sekalian aku turut mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya untuk korban dan keluarga kecelakaan pesawat air asia QZ8501. 

Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihim wa’fuanhum.

One response

  1. Makasih atas infonya , Adria

    August 29, 2015 at 1:48 PM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s