Always run back to the future …..

Rindu Baitullah : Part 1


image

Suasana Thowaf

Belum pernah ada masa kukecap dulu.
Ada rindu begini bertalu-talu.
Resah gelisah ingin bertemu.
Lagi-lagi ingin ia panggil-panggil aku.

Hei, katanya rindu itu bagian cinta.
Padahal sekali baru saja bertatap muka.
Sungguh benar cinta datang tanpa diduga.
Baru sejenak pergi ingin lagi bersua.

Labbaikallahumma labbaik

Menuju akhir Desember 2014 yang lalu, Alhamdulillah banget aku diperkenankan untuk melaksanakan umroh di kota yang sangat dirindukan untuk didatangi oleh jutaan umat muslim yang tersebar di pelosok dunia, apalagi kalau bukan kota Mekkah dan Madinah. Tentu saja tidak lain ini karena kemurahan Allah yang memberikan sedikit rezeki sehingga aku yang hidup pas-pasan ini bisa pergi kesana. Untuk itu di postingan kali ini aku akan mencoba untuk mengulas perjalanan religiku. Siapa tahu bisa menjadi informasi yang bermanfaat bagi para readers. Sebelumnya aku beritahukan bahwa mungkin postingan kali ini akan terasa sedikit panjang dan terbagi dalam dua part karena banyak sekali yang mau aku ceritakan disini. Jadi mohon maaf bila akan sangat membosankan.

Berangkat tanggal 17 Desember 2014 menggunakan pesawat Saudi Airlines aku bertolak dari Jakarta menuju kota Madinah terlebih dahulu. Waktu itu perasaanku sangat campur aduk. Antara senang, terharu dan sedikit gelisah. Maklum perjalanan ini merupakan kedua kalinya aku pergi meninggalkan tanah air dan aku berangkat hanya seorang diri. Perjalanan yang dibutuhkan cukup lama, kira-kira samalah kalau dibandingkan dengan perjalanan dari Jakarta ke Surabaya naik kereta. Lucunya waktu itu aku merasa amazing banget dan benar-benar menikmati benar perkara perbedaan waktu. Aku berangkat pukul 6 dari Jakarta dan sampai di Madinah pukul 17 waktu Jakarta, namun karena adanya perbedaan waktu, yakni mengikuti waktu Madinah, maka aku tercatat tiba di Madinah pukul 13. Artinya aku mengalami siang lebih lama. Dan ini berasa sesuatu banget. #Hahaha, katrok!!!

Menelusuri Madinah

Madinah ini termasuk salah satu dari dua kota suci umat muslim di negara Saudi Arabia selain kota Mekkah. Madinah inilah kota dimana Nabi melakukan hijrah. Disini banyak tempat-tempat yang biasanya direkomendasikan oleh pihak travel untuk dikunjungi selain Masjid Nabawi tentunya, misalnya seperti Makam Baqi, Pasar Kurma, Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Jabal Uhud dan Percetakan Al-quran. Tapi sayang karena waktu umroh hanya 9 hari maka jadwalpun harus dibagi-bagi sehingga nggak semua tempat tersebut bisa aku kunjungi. Kalaupun mengunjungi paling-paling hanya lewat dan mengamati dari dalam bis. Dari kesemua lokasi hanya Masjid Quba, Pasar Kurma, dan Jabal Uhud saja dimana aku benar-benar menapakan kakiku ke bumi.

Masjid Nabawi such a peaceful place

Pertama-tama aku ceritakan yang paling melekat dibenakku yakni Masjid Nabawi karena selama di Madinah disinilah aku menjalani kegiatan sehari-hariku. Aku nggak tahu penampakan Masjid ini dari atas, hanya aku menduga bentuknya seperti persegi panjang. Masjid ini terlihat berwarna dominan putih gading dan emas, megah dan luas dengan kubah yang bisa begerak. Kata guideku Masjid Nabawi ini dulunya nggak terlalu luas seperti sekarang hanya kurang lebih beberapa meter dari kediaman rasul. Oh ya, di Masjid Nabawi inilah terletak makam rasul. Didekat makam rasul ini pula dikenal ada satu tempat namanya Raudhoh. Raudhoh adalah tempat antara mimbar Masjid Nabawi (lokasi masjid lama) dan rumah Rasul. Tempat ini merupakan salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa. Banyak orang yang berdesak-desakan untuk bisa sholat dan bermunajat di tempat ini, maklum tempatnya nggak begitu luas paling kira-kira cuma 6 x 8 meter ditandai dengan karpet berwarna hijau. Makanya waktu mengunjungi tempat ini diatur jadwalnya oleh askar yang bertugas mengatur masjid. Jadwal laki-laki dan perempuan untuk memasuki raudhoh ini dibedakan. Kalau tidak salah untuk wanita selepas Dhuha, setelah Dzuhur dan sehabis Isya selebihnya untuk pria.

image

Pelataran Masjid Nabawi

Untuk pergi ke Raudhoh mandiri tanpa guide usahakan pergi bersama teman ya, karena dengan bersama teman, kita bisa gantian saling menjaga ketika sholat. Selama di Madinah Alhamdulillah aku berkesempatan sholat hajat dan berdoa di Raudhoh selama dua kali dan sukses bikin termehek-mehek nggak berhenti-berhenti. Bagaimana nggak nangis, menurut Imam Gozhali waktu adalah hal yang paling jauh, dan Rasul hidup beratus-ratus tahun yang lalu, sesuatu yang sulit untuk digenggam. Memeluknya, menciumnya mungkin hanya bisa dalam khayalan. Hingga ketika berdiri di depan makamnya, seketika tumpah ruahlah emosi rindu yang mengharu biru dan tak terbendung ini. #halah.

image

Payung Raksasa Ketika Terbuka

Menuju ke pelataran Masjid Nabawi, masjid ini dikelilingi teras yang luas dimana di atas teras tersebut berdiri payung-payung raksasa indah yang dapat menutup dan membuka dengan sistem hidraulik. Payung-payung tersebut digunakan untuk menghalangi panas matahari. Di sekeliling pelataran masjid Nabawi ini juga berdiri toilet dan pintu-pintu masuk. Biasanya pintu dan toilet ini aku jadikan patokan untuk mengingat posisi karena pintu dan toilet ini bernomor. Jadi tempat-tempat ini adalah tempat paling mudah untuk bertemu kalau kita janjian dengan orang lain. Untuk setiap hari jumat, karena hari jumat adalah hari libur, sepertinya pelataran ini jadi semacam arena kumpul keluarga, karena aku pernah terheran-heran banyak anak kecil sampai remaja yang berlarian di jumat malam tapi nggak begitu banyak kutemukan di malam lainnya.

Diluarnya, Masjid Nabawi ini dikelilingi dengan banyak toko dan pedagang. Berbagai benda banyak dijual disini, mulai dari kurma, cokelat, pakaian, alas kaki. Lucunya kalau kuperhatikan, kita akan menemukan beberapa pedagang menggunakan gerobak ala jaman kerajaan majapahit untuk menjajakan barangnya. Tidak jarang juga para pedagang ini menerima uang indonesia loh. Rata-rata pedagang setidaknya mengenal mata uang rupiah pecahan 50 ribu dan 100 ribu. Sebagian dari mereka juga paham sedikit bahasa Indonesia yang digunakan dalam transaksi jual beli.

image

Jam Besar di depan Masjid Nabawi. Disini banyak ditemukan burung-burung merpati berterbangan dan mencari makan

Di sekitar pelataran Masjid Nabawi ini ada beberapa lokasi yang mungkin bisa dijadikan spot untuk diabadikan dalam foto. Selain masjid dan payung raksasanya, salah satu spot bagus untuk diabadikan adalah jam besar yang bentuknya mirip jam gadang. Jam ini terletak persis didepan Masjid. Di sekeliling jam besar ini biasanya banyak burung-burung merpati yang menghinggapi jam tersebut untuk mencari makan. Sebenernya sih pengunjung juga yang memberikan makanan ke burung-burung tersebut. Biasanya memang ada penjual yang menjual pakan burung bagi pengunjung yang mau sedikit membagi rezeki kepada burung-burung. Selain di dekat jam besar ini, kalau berminat untuk berfoto bersama burung-burung merpati ada spot lain yang tidak jauh dari Masjid Nabawi yakni ke arah selatan dekat underpass.

image

Berburu Foto Bersama Merpati

Berbicara soal ibadah, selain sholat sunnah di Raudhoh yang aku ceritakan diatas, aku bertekad selama di Madinah ini untuk nggak melewatkan untuk sholat fardhu, sunnah dhuha dan tahajud di Masjid Nabawi. Tentu aja motivasinya untuk mengejar pahala 1000 kali lipat sekali sholat. Gilaaa, Allah pemurah banget kan? Aku jadi teringat membaca sebuah buku bahwa di islam dikenal faktor kali dan faktor abadi. Apa itu? Hal ini memiliki pengertian bahwa dalam ibadah-ibadah tertentu ada yang Allah berikan ganjaran dengan pahala yang berkali-kali lipat dan ada yang diberikan ganjaran dengan pahala yang tak pernah putus, selalu mengalir alias abadi. Sungguh Allah maha pemurah. Padahal ini baru sholat di Masjid Nabawi, coba nanti waktu di Masjidil Haram. Ganjarannya akan lebih besar yakni 100.000 kali lipat sekali sholat. *WOW*

Selain memperbanyak ibadah sholat dan membaca Al-quran, selama di Madinah kita bisa cari pahala lain melalui sedekah. Ada banyak pintu sedekah yang bisa kita temukan. Misalnya saja dengan waqaf Al-quran. Selain dapat membeli di Percetakan Al-quran, sebenernya di pintu-pintu masjid bisa ditemukan pedagang yang menjual Al-quran untuk waqaf. Waktu itu aku bersama temanku membeli alquran waqaf yang ukuran kecil, kalau nggak salah waktu itu untuk 6 buah Al-quran seukuran buku tulis kecil kami dikenai harga 100 Riyal. Biasanya setelah membayar maka pedagang akan memberikan cap stempel bertuliskan waqaf lillahi ta’ala di halaman depan masing-masing Al-quran. Tapi kita harus hati-hati juga nih pada saat membeli Al-quran untuk waqaf karena hanya Al-quran cetakan dari percetakan saja yang diterima di Masjid Nabawi. Ada salah seorang ibu rombonganku memberitahu ciri dari Al-quran keluaran percetakan yakni tidak terlalu banyak catatan-catatan kaki di bingkai halamannya. Selain waqaf Al-quran kita juga bisa sedekah kepada para petugas pembersih Masjid. Masjid Nabawi ini memiliki banyak petugas pembersih masjid. Banyak juga diantaranya ternyata merupakan TKW asal Indonesia. untuk itu biasanya sedekahku aku prioritaskan untuk saudara-saudara kita dari tanah air. Kasihan loh mereka, aku pernah dengar temanku menceritakan bahwa ia pernah berbincang dengan salah satu petugas pembersih asal Indonesia, ternyata penghasilan merekapun tidak besar bahkan ada yang penghasilannya tidak lebih tinggi dibandingkan UMR.

Oh ya, di kota Madinah ini aku menginap di salah satu hotel yang kira-kira jaraknya kurang lebih 400 m dari masjid Nabawi namanya Deyar Al-Huda. Sebenarnya hotel-hotel di Madinah ini jaraknya dekat-dekat tapi kalau kebetulan dapat yang jauh, lebih baik lebih sering berdiam di Masjid saja dibanding harus bolak-balik ke hotel. Akupun begitu, ke hotel hanya untuk makan siang saja, selebihnya aku berdiam diri saja di Masjid. Tidak usah kuatir untuk makan dan minum. Di Masjid selalu tersedia banyak air zam-zam dan seperti yang aku ceritakan di atas bahwa di sekeliling masjid ada banyak toko, diantaranya toko makanan. Biasanya aku membawa bekal kurma untuk sementara meredakan gejolak perut dikala meraung-raung minta diganjel, alias ketika penyakit magh langgananku kambuh.

Masjid Quba, the little white mosque masjid

image

Masjid Quba

Di hari touring, pihak travel membawa rombonganku pergi ke masjid Quba yakni Masjid pertama yang dibangun oleh Rasul. Jangan bandingkan dengan Masjid Nabawi, Masjid Quba ini tidak terlalu besar dan warnanya dominan putih. Disini kami hanya sebentar saja. Hanya masuk masjid kemudian sholat tahiyatul masjid dilanjutkan sholat Dhuha. Sholat di masjid ini memiliki keutamaan yakni bila melaksanakan sholat disini sama ganjarannya dengan satu kali ibadah umrah. Sama halnya dengan di Masjid Nabawi, disekitar Masjid Quba juga ada banyak pedagang yang berjualan. Hanya pihak travel memberikan peringatan kepada kami untuk berhati-hati jika ingin membeli sesuatu karena terkadang ada beberapa penjual yang nakal yakni menjual barang-barang palsu seperti parfum yang isinya telah diganti.


Jabal Uhud sang saksi bisu perang uhud

image

Jabal Uhud

Setelah mengunjungi Masjid Quba, selanjutnya rombongan dibawa untuk melihat Jabal Uhud. Jabal Uhud ini adalah lokasi penting dalam sejarah islam, karena disinilah terjadinya Perang Uhud. Pemandangan disini benar-benar indah. Kita akan disajikan satu lansekap yang luas membentang dimana didalamnya terlukis barisan bukit berwarna cokelat tanah yang memanjang. Disini juga terdapat makam para syuhada salah satunya sahabat rasul sekaligus pamannya yakni Hamzah bin Abdul Muthalib. Sehingga disini kita dianjurkan untuk memberi salam dan mendoakannya. Dan lagi-lagi, seperti kata pepatah, dimana ada gula pasti ada semut, dimana ada keramaian disitulah ada pedagang. Kalau diperhatikan memang disepanjang jalan menuju bukit ini banyak pedagang-pedagang yang berjualan.


Pasar kurma dan si permadani gurun

image

Kebun Kurma

Pasar kurma adalah salah satu lokasi wajib dikunjungi oleh para jamaah baik haji maupun umroh. Disini banyak dijual berbagai macam jenis kurma dan oleh-oleh khas lainnya dari negara arab seperti kacang arab, cokelat dll. Istimewanya di Pasar Kurma ini pengunjung dipersilahkan untuk menyicipi kurma-kurma yang dipajang sepuasnya secara gratis. Tapi jangan dibawa pulang ya, karena kalau dibawa pulang kita wajib bayar alias beli. Nah, disekitar pasar kurma inilah terdapat pemandangan permadani nan hijau di atas gurun apalagi kalau bukan kebun kurma itu sendiri. Di madinah ini kurma memang merupakan komoditas utama. Maka wajar harga kurma di kota ini jauh lebih murah dibandingkan di Mekkah. Untuk kurma nabi yang biasa dikenal dengan sebutan kurma Ajwa rata-rata perkilonya 70-90 Riyal. Tapi ada juga loh salah satu teman satu rombonganku yang bisa menawar hingga 50 Riyal perkilo. *jago amat nawarnya ckckckck* Memang kalau mau memberikan kurma Ajwa sebagai oleh-oleh aku rasa sebaiknya beli di Madinah saja. Apalagi kalau sampai beli di tanah air. Aku pernah ngubek-ngubek di Pasar Tanah Abang satu kilonya bisa mencapai 450 ribu rupiah loh. Tapi ya konsekuensinya barang bawaan jadi berat *huhuhu*.

Selesai sudah jejak perjalananku di kota Madinah. Untuk lanjutan perjalanan menuju ke dan di Kota Mekkah apabila masih berkenan membaca bisa langsung aja ke TKP ya, yakni Part 2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s