Always run back to the future …..

Rindu Baitullah :Part 2


Hai, gak bosen kan mampir? Yuk, sekarang aku mau cerita untuk Rindu Baitullah Part 2. Oke langsung saja.

Memulai Umrah, Miqat di Bir Ali

Pada hari ke empat, aku bersama rombongan pergi menuju ke Makkah untuk pelaksanaan umroh. Kami berangkat dari Madinah sehabis menunaikan sholat dzuhur. Karena perjalanan menuju Makkah dari Madinah kurang lebih sekitar 6 jam maka sholat ashar kami jamak bersama dzuhur. Kami berangkat menggunakan bus. Kurang lebih 15-20 menit dari Nabawi, kami berhenti di Bir Ali. Bir Ali ini merupakan miqat Makani yang diperuntukkan untuk niat ihram bagi penduduk yang berasal dari Madinah. Di Bir Ali ada sebuah mesjid, di mesjid inilah kami mengambil wudhu, lalu kemudian sholat sunnah tahiyatul masjid dua rakaat. Setelah selesai dan memastikan bahwa syarat syah ihram telah dipenuhi, kami mengucap niat ihram. Dari sini maka apa yang diharamkan pada saat umrah berlaku (baca larangan umroh)

Selayang pandang menuju kota Makkah

Setelah mengucap niat ihram, bis yang kami tumpangi terus melaju menuju Makkah. Selama perjalanan ini kami isi dengan banyak-banyak berdzikir dan talbiyah atau diselingi tidur sebentar apabila merasa lelah. Selama perjalananmenuju mekkah ini, bis yang kami tumpangi berhenti sekali untuk istirahat di tempat oeristirahatan Indonesia. Saya lupa namanya apa. Yang mungkin kangen dengan makanan indonesia disini bisa menikmati makanan indonesia seperti pop mie, bakso dan soto. Oh ya, kebetulan di depan rumah makan ini waktu itu ada penjual madu yaman. Kata ustadzku sih itu madu mahal harganya kalau sudah sampai di Makkah bisa sampai 300 ribu-an. Tapi penjual ini jual murah sekitar 100 rb perliter. Awalnya sih takut beli, tapi berdasarkan rekomendasi ustad katanya sih asli. Ya sudah deh, aku dan beberapa temanku beli. Dan lumayan dapat gratisan habbatusaudah alias si jinten hitam yang masih asli berbentuk butiran. Penjualnya juga ngajarin makan jintan hitam ini bareng madu itu dengan dicampur di sendok. Rasanya jadi lucu, manis-manis kriuk-kriuk gitu.

Malam singkat di hotel

Setelah 6 jam perjalanan, akhirnya sampailah rombongan di kota mekkah. Kami dibawa oleh bis menuju hotel. Sesampai di hotel kami dibagikan kunci kamar untuk menaruh barang-barang dan bersiap-siap untuk pelaksanaan thawaf, ambil wudhu dan sholat maghrib dan isya dengan di jamak takhir. Setelah selesai kami berkumpul di lobi hotel. Waktu itu jam menunjukkan tengah malam kami memulai berjalan menuju masjidil haram. Suasana agak dingin. Meskipun tidak sedingin sewaktu di Madinah.  Tidak menyangka juga ternyata hotel kami cukup jauh, kira-kira satu kilometer dari Masjidil Haram. Akhirnya setelah berjalan cukup lama kami tiba didepan Masjidil Haram. Hanya satu yang terbesit di hati waktu itu yakni puji dan syukur karena bisa diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di Masjidil Haram. Kemudian kami memasuki Masjidil Haram dengan tidak lupa membaca do’a ketika memasuki masjid. Ternyata sewaktu rombonganku disana rupanya sedang terjadi renovasi Masjid besar-besaran sehingga ada beberapa jalan menuju Ka’bah yang ditutup.

image

nama hotel tempatku menginap, ternyata jauh dari Masjidil Haram

 

image

suasana pelataran Masjidil Haram saat tengah malam

image

Suasana Keramaian di Sekitar Masjidil Haram

The beautiful Baitul ‘Atiq, Ka’bah

Akhirnya yang dinanti-nanti tiba. Biasanya hanya bisa melihat Ka’bah dari TV. Tapi waktu itu bisa menyaksikan secara langsung rasanya langsung mengharu biru. Dimulai dari rukun Hajar Aswad, kami memulai thawaf. Kalau hajar aswad tidak kelihatan kita bisa melihat tanda lampu hijau yang menempel di pilar-pilar masjid yang bila dihubungkan dengan hajar aswad akan membentuk satu garis lurus. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika thawaf. Ka’bah berbentuk kubus yang memiliki empat sudut rukun. Pertama kali memulai thawaf dari rukun Hajar Aswad yakni sudut Ka’bah dimana melekat batu hajar aswad. Kemudian berjalan mengelilingi dengan berlawanan arah jarum jam. Setelah melewati Hajar aswad maka akan ditemui yang namanya  pintu Ka’bah dan Maqam Ibrahim yang terletak sekitar 8 meter dari pintu Ka’bah. Selanjutnya kita akan menemukan apa yang disebut dengan Hijr ‘Ismail. Sebaiknya hati-hati pada saat thawaf kita harus berada di luar Hijr ‘Ismail. Karena tempat antara ka’bah dan Hijr ‘Ismail ini masih termasuk bagian Ka’bah sehingga apabila kita masuk di antara keduanya maka thawaf kita tidak sah. Kecuali bila sedang tidak thawaf maka kita boleh-boleh saja berada di Hijr ‘Ismail ini. Kita juga boleh sholat hajat di dalamnya, karena Hijr ‘Ismail ini salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa. Setelah melewati Hijr ‘Ismail akan kita temui rukun Yamani. Saat melintasi  rukun Yamani ada satu doa khusus yang diucapkan yakni :

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Bagi laki-laki disunnahkan untuk berlari-lari kecil. Setelah rukun Yamani maka kemudian akan kita kembali jumpai kembali Hajar Aswad untuk memulai putaran thawaf selanjutnya hingga terlaksana sempurna sebanyak 7 kali putaran.

Sekedar tips ketika thawaf sebaiknya mengajak teman supaya bisa saling mengingatkan sudah berapa kali putaran yang dilakukan. Tapi sebenarnya banyak cara supaya tetap ingat antara lain kita bisa menggunakan karet gelang yang dapat kita pindahkan dari tangan kiri ke kanan setiap kali memulai thawaf atau bisa menggunakan tasbih yang khusus hanya tujuh butir atau bisa menggunakan buku-buku jari seperti sedang berdzikir sehabis sholat. Selesai thawaf selanjutnya melaksanakan sholat sunnah di belakang Maqam Ibrahim dilanjutkan dengan berdoa dan minum air zam-zam. Oh ya, hati-hati ketika thawaf, kadang ada orang yang menawarkan kesempatan untuk mencium Hajar Aswad. Jangan mudah tergiur ya. Karena itu calo, kalau sampai kita mau nanti setelah mencium hajar aswad kita akan disuruh bayar. Ada yang bilang tarifnya bisa sampai satu juta rupiah loh. Tapi saya kok heran sama askarnya kenapa hal ini dibiarkan ya. Saya pikir waktu  pelaksanaan thawaf pada umroh, saat itu tidak terlalu ramai, tapi giliran mau mencium Hajar Aswad itu sulit sepertinya memang sengaja ditutupi oleh komplotan-komplotan si calo-calo tadi.

Berlari mengenang kegigihan ibunda Hajar

Setelah melaksanakan thawaf, selanjutnya yang dilakukan adalah sa’i. Yakni belari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah seperti apa yang dilakukan ibunda Hajar dahulu ketika mencari air untuk putranya ismail. Tempat Sa’i ini ternyata ada dua yakni di atas dan di bawah. Kalau saya lebih prefer untuk melaksanakan sai di atas, karena terlihat lebih luas dan lebar. Jalur untuk sa’i ini sudah diatur sedemikian rupa. Satu jalur untuk perjalanan dari Shafa ke Marwah dan satu jalur untuk arah sebaliknya. Untuk setiap jalurnya sangat lebar mungkin ada sekitar 6 sampai 7 meter. Dalam pelaksanaannya sa’i dilakukan 7 kali perjalanan. Dimana setiap dari Shafa ke Marwah di hitung satu kali dan sebaliknya dari Marwah ke Shafa juga dihitung satu kali. Sehingga kita akan berada di bukit Shafa dan Marwah masing-masing sebanyak 4 kali. Dalam perjalan sa’i ada tanda lampu hijau yang harus diperhatikan. Lampu hijau ini berada diatas, kira-kira memanjang sejauh 5-6 meter. Ketika memasuki area dibawah lampu hijau ini, bagi laki-laki disunahkan untuk berlari-lari kecil. Ketika sampai pada perjalanan terakhir, berarti kita akan berhenti di bukit Marwah. Di bukit inilah dilakukan pelaksanaan tahalul yakni proses memotong rambut. Dengan dilakukannya tahalul ini maka apa yang diharamkan pada saat ihram kini tidak lagi dilarang dan selesailah seluruh prosesi pelaksanaan umroh.

Sightseeing. Mari jalan-jalan.

Setelah pelaksanaan umroh selanjutnya diisi dengan acara bebas saja. Paling-paling acara yang bersama rombongan adalah perjalanan melihat lokasi-lokasi pelaksanaan rukun haji dan tempat bersejarah lainnya seperti Mudzalifah, Mina, Arafah, Jabal Rahmah, Jabal Tsur dan Ji’ronah.

image

Jabal Rahmah, tempat bertemunya Adam dan Hawa ketika diturunkan ke bumi, terletak di area Padang Arafah

image

Tugu Jabal Rahmah. hati-hati terjebak syirik karena di Tugu ini banyak ditemukan coretan nama karena dipercaya dapat memudahkan dalam menemukan jodoh atau membuat hubungan langgeng.

image

Maaf lupa. Tapi sepertinya ini lokasi yang disebut muzdalifah, tempat dimana mengambil kerikil untuk jumrah

image

Mina merupakan lokasi untuk bermalam pada saat Haji

image

Gua Hira terletak di atas Jabal Nur, tempat dimana nabi SAW pertama kali menerima wahyu

My notes

Berikut aku coba rangkumkan beberapa hal berdasarkan pengalamanku selama di Mekkah yang mungkin bisa jadi catatan  :
1. Mumpung masih di Makkah ada baiknya kalau kita memperbanyak ibadah. Seperti ulasanku di Part 1, sekali sholat di Masjidil Haram nilai pahalanya 100 ribu kali dan banyak tempat-tempat khusus yang mustajab untuk berdo’a. Maka sayang sekali kalau waktu dihabiskan dengan percuma. Untuk jalan-jalan bolehlah tapi cukup sekedar tahu saja. Jadi kalaupun tidak ada kesempatan nggak usah ngoyo harus jalan-jalan. Ibadah yang dilakukan di luar umroh seperti sholat wajib, sholat sunnah, baca Al-quran, muroja’ah bisa dilakukan, namun karena Ka’bah juga ada disini alangkah baiknya kalau kita perbanyak thawaf sunnah (baca anjuran memperbanyak thawaf)

2. Kalau hotel letaknya jauh dari masjid, bagi yang kuat dan terbiasa backpacker-an alias hidup seadanya, daripada harus capek bolak balik mesjid hotel, lebih baik berdiam diri di masjid. Biasanya saya pergi ke masjid itu waktu tahajud dan sampai shubuh. Setelah sholat shubuh saya thawaf sebentar, sambil lihat situasi, kalau-kalau ada kesempatan sholat hajat di dalam Hijr Ismail. Nah setelah selesai, kemudian saya pulang ke hotel untuk makan pagi dan mandi. Setelah itu kemudian kembali lagi ke masjid untuk sholat dhuha dan berdiam seterusnya di dalam masjid hingga isya. Untuk makan siang, bisa membeli di counter makanan di sekitar masjid. Tidak usah khawatir disini banyak sekali penjaja makanan seperti kebab, fried chicken dan lain sebagainya. Untuk minumnya tenang saja, karena disini sumbernya air zam-zam, jadi kita bisa minum air zam-zam sepuasnya. Kalau bosan dengan air zam-zam juga banyak yang berjualan jus dan ice cream disekitar masjid. Tapi alangkah baiknya minum air zam-zam karena kandungannya yang lebih baik dari minuman lainnya.

3. Bawa uang secukupnya saja. Di Masjidil Haram ini kita harus berhati-hati menjaga barang kita karena banyak sekali pencopet berkeliaran. Entah kenapa pencopet tetap banyak meski banyak juga yang sudah di eksekusi potong tangan. Di Makkah ini pemandangan seseorang tanpa lengan itu sepertinya pemandangan yang wajar. Info dari teman satu rombongan, pengemis-pengemis yang berlengan buntung itu biasanya dulunya adalah seorang pencopet. Ya meskipun tidak semuanya begitu sih. Sebenarnya di dekat toilet wanita di sebelah sisi deretan pintu bernomor delapan puluhan ada locker yag bisa digunakan untuk menyimpan barang. Tapi aku belum pernah coba. Jadi tidak tahu aman atau tidak apabila menyimpan barang di sana. Untuk mensiasati, pakaian dalam berkantung cukup berguna digunakan untuk sehari-hari membawa uang.

4. Untuk wanita perbanyak bawa baju panjang, seperti gamis dan rok yang bisa dipakai sekaligus untuk sholat. Hal ini cukup memudahkan agar kita tidak perlu pakai lepas mukena karena di sana situasinya padat. Kadang untuk memperoleh tempat untuk sholat saja sulit, apalagi harus lepas pakai mukena. Dan jangan lupa bawa sajadah yang ringan. Jaga-jaga kalau kurang beruntung tidak dapat berjama’ah di dalam masjid karena sudah terlanjur penuh dan harus sholat di pelataran.

5. Pergi bersama teman merupakan hal yang penting. Makkah ini berbeda jauh dengan di Indonesia. Wanita bisa menjadi sasaran empuk kejahatan di sana. Jadi dengan pergi bersama teman kita bisa saling menjaga. Tidak hanya itu kita beribadah di dalam masjid ini bersama dengan orang-orang dari suku bangsa lain yang punya budaya berbeda, sehingga kadang akan terjadi gesekan-gesekan yang kurang menyenangkan. Misalnya saja waktu itu banyak kutemui beberapa orang arab yang sukanya menyela barisan shof, mereka selalu ingin di depan padahal datangnya belakangan. Biasanya mereka tidak segan-segan untuk masuk di celah-celah sempit sekalipun. Wah, kalau badannya kecil sih mungkin bukan menjadi masalah, tapi rata-rata mereka yang sudah berumur beratnya kira-kira di atas 75 kg. Belum lagi kalau kita meninggalkan sebentar tempat kita untuk sekedar mengambil air wudhu. Kalau sendirian, sudah bisa dipastikan itu tempat tadi kita sholat sudah dikuasai oleh orang lain. So berwaspadalah.

6. Bawa obat-obatan yang diperlukan. Kalau buatku pribadi yang paling penting obat masuk angin dan counterpain. Karena waktu itu udaranya agak dingin kalau malam dan pagi badan saya rentan sekali untuk masuk angin. Sedangkan counterpain berguna banget untuk digunakan setelah thawaf atau pulang pergi perjalanan masjid-hotel. Oh ya berhubung kalau thawaf siang hari itu panas (dengan catatan bukan pada saat ihram), karena kita lepas alas kaki, sebaiknya kita tetap pakai kaos kaki atau bisa membeli alas kaki yang lucu-lucu di Grand Zam Zam Tower di depan Masjidil Haram.

image

alas kaki bergambar katak yang kubeli untuk thawaf

 

7. Hati-hati terjebak bid’ah dan syirik. Alangkah baiknya kalau kita melaksanakan umroh kita bekalkan diri kita dengan memperdalam ilmu. Karena salah-salah kita bisa melakukan bid’ah atau syirik. Salah satu contohnya memegang kiswah yakni kain ka’bah, ini salah satu hal yang tidak dicontohkan Nabi. Contoh kasus lain lagi menuliskan nama di Jabal Rahmah dengan maksud agar mendapat jodoh atau agar rumah tangganya langgeng, ini perbuatan yang menjurus ke arah syirik. Untuk itu sebaiknya kita hati-hati jangan sampai ibadah kita justru terhapus amalannya karena perbuatan bid’ah dan syirik tersebut.

Say good bye….

Akhirnya setelah sembilan hari di Arab tibalah waktunya pulang. Sekitar 2 jam perjalanan kami tempuh dari Makkah menuju Jeddah. Sebelum ke bandara kami mampir dulu untuk sholat shubuh di Masjid Terapung, selebihnya kemudian jalan-jalan di sekitar Jeddah.

image

Suasana Masjid Terapung Saat Shubuh

Oke that’s all yang bisa aku ceritakan mengenai pengalamanku menunaikan ibadah umroh. Semoga apa yang aku tuliskan bermanfaat. Mohon maaf atas segala kekurangan. Dan semoga Allah senantiasa memudahkan bagi kita semua untuk meramaikan rumah Allah.

Labbaikallahumma Labbaik………

One response

  1. Pingback: Rindu Baitullah : Part 1 | My DazzlingDays

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s