Always run back to the future …..

Ketika Ku Ber-i’tikaf


image

Suasana I'tikaf di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia, Jakarta Pusat

Detik terakhir yang berdetak di penghujung sepertiga malam terakhir akhirnya menguak tanya yang begitu kuat.

Bagaimana engkau bisa Yaa Rasulullah, menghabiskan malam-malam-mu  selalu dengan menegakkan qiyamul lail disaat khalayak terlelap dalam mimpi?

Bagaimana bisa engkau nikmati setiap kata perkata dari wahyu yang terucap? Bahkan hingga kaki-kaki menjadi bengkak. Tiada pernah sepatah katapun terlontar keluh maupun kesah.

Kadangkala ada iri terbesit dihati. Imajinasi ini terbang begitu tinggi. Sepele, tapi begitulah yang paling mudah dibandingkan jika harus berteori. Andaipun jadi kalimat andalan. Andaikan saja aku terlahir sebagai orang arab. Mungkin akan jauh lebih mudah untukku jatuh cinta berkali-kali pada sahabat paling sempurna, tiada lain dan bukan ialah Al-qur’an.

Tapi mengubah yang telah ditetapkan adalah kemustahilan. Karena waktu bergerak lurus, dengan kecepatan tetap tanpa pernah diperlambat ataupun berhenti apalagi berbalik haluan.

Juga sesungguhnya tiada salah terlahir dari berbangsa apa. Karena kalamNya ialah sahabat universal. Dijanjikan olehNya dapat dimengerti dengan sangat mudah. Cukup berpegang teguh pada bisa karena biasa dan biasa karena bersungguh-sungguh belajar, maka tiadalah satupun hal yang tidak mungkin.

Kecuali pada sesal yang tetaplah bersisa pada jejak usia lalu yang tersia-sia. Tak henti memaksa menguntai pengandaian “andaikan saja sejak dulu aku”.

Maka lisanku tak henti bergumam
Kelak ajarkanlah anakmu…..
Ajarkanlah anakmu….
Agar tiada sesalnya di kemudian….

—————-
Sedikit penjelasan. Ini coretan yang kubuat saat beri’tikaf di Masjid Baitul Ihsan pada 21 Ramadhan 1436 H. Pengalaman pertama dimana sholat tahajud 8 raka’at dengan menghabiskan 3 Juz bacaan Al-qur’an. Pengalaman yang membuatku sangat berfikir mengenai Rasul yang begitu mencintai Tahajud, begitu mencintai bacaan Al-qur’an. Waktu itu aku berpikir, beginilah rasanya menjalankan apa yang Rasul jalankan dulu. Sungguh aku terheran-heran. Aku sendiri setengah memaksakan diri, karena sebagian tubuhku saat baru separuh Tahajud berjalan sudah berdemonstrasi tak karuan, tidak kaki yang mengatakan tidak kuat menopang tubuh, juga mata yang tak mau berkompromi untuk terjaga. Masya Allah, Yaa Rasul, Yaa Rasulullah. Berulangkali kuberucap seperti itu dalam hati. Bagaimana engkau bisa melakukan ini semua Yaa Rasul? Apa karena begitu cintanya engkau terhadap Al-qur’an? Begitu indahnya makna dari bacaan Al-qur’an hingga membuatmu terlena dan ingin berlama-lama membacanya?

Lalu tiba-tiba akupun merasa iri pada orang arab. Sungguh beruntung mereka. Alqur’an diturunkan dalam bahasa ibu mereka. Harusnya sangat mudah bagi mereka untuk mencintai Al-qur’an bukan?? *ini pemikiran picik, tidak boleh ditiru hahaha*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s