Always run back to the future …..

Latest

Teruntuk Para Pencari Cahaya (Baca: Penuntut Ilmu)

image

Diantara sekian banyak ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini, kadang tak mudah begitu saja mendapatkannya. Ada saja rintangan yang menghalangi untuk menggapainya. Tempat belajar disebrang samudra,  biaya yang tak sedikit jumlahnya,  jauh dari sanak saudara,  ujian masuk yang susah dan halangan lainnya yang mencoba memukul mundur semangat untuk belajar.

Tapi pernahkah mencoba merenung, seberapa besar ilmu itu akan menyelamatkan hidup kita? Kadang kita lupa prioritas utama ilmu yang kita cari adalah ilmu yang mengajarkan cara hidup sebagaimana sejatinya manusia hidup di dunia. Dan terkadang ilmu itu dekat, dan kita hanya butuh sekedar niat dan usaha serta harta yang tak seberapa untuk mempelajarinya. Hanya saja kita terlanjur memandang sebelah mata, meremehkannya dan menganggapnya tak penting karena kurang populer dan kurang keren. Padahal ilmu itu justru yang akan menyelamatkanmu selama di dunia.

Selama belum sampai liang lahat, bukankah belajar adalah kewajiban? Tak peduli seberapa keren dan populer ia, bukankah semua ilmu itu adalah cahaya? Bukankah roda terus berputar dan siang selalu berganti malam?  Maka kelak bila kita terjatuh dalam kegelapan, cahaya yang manakah yang bisa menyelamatkan dari kegelapan?

Tulisan di atas hanya sekedar sebuah renungan diri yang belakangan ini sering hinggap di pikiran. Saya sejak kecil suka belajar. Haus akan ilmu. Dan saya amat menggilai bidang sains dan teknik. Suatu saat ingin sekali mengukir prestasi di bidang tersebut. Namun semakin kesini saya semakin merasa hampa. Tidak bermaksud mengesampingkan ilmu yang telah saya miliki sejak bangku SD sampai
Sarjana. Hanya saja ilmu itu belum bisa berkontribusi banyak dalam kehidupan. Ah apalagi dalam penyelesaian konflik-konflik dalam hidup. Mungkin terbilang hanya seujung jari. Ya,  hingga suatu titik dalam rentang waktu hidup saya,  dimana saya menyadari betapa fakirnya saya akan ilmu tentang hidup. Fakir akan ilmu yang mengajarkan cara hidup sebagai manusia yang merupakan ciptaan Allah SWT dan memiliki kewajiban mengabdi dan menyembah hanya kepadaNya. Betul katanya, bahwa kejarlah duniamu seakan-akan kau hidup selamanya,  dan kejarlah akhiratmu seakan-akan kau mati besok. Hidup untuk dunia dan akhirat harus seimbang. Saya sadar,  ternyata untuk menjalani hidup dengan baik, saya perlu menyeimbangkan ilmu dunia saya dengan ilmu-ilmu akhirat.

Setelah menyadari hal ini,  saya mulai berguru kesana kemari mencari ilmu-ilmu yang dulu hanya sempat mampir di otak hanya untuk sekedar tahu bukan memahami. Maka mulailah saya intens menghadiri majelis ta’lim di masjid sampai dengan majelis virtual. Saya merasakan manfaatnya dalam hidup saya. Saya merasa kehidupan saya jauh lebih baik dari sebelumnya.

Tapi makin kesini ada hal yang membuat saya tergelitik. Ada suatu fenomena yang tertangkap mata. Ini jadi tanda tanya besar di kepala. Yaitu mengenai fenomema majelis ilmu-ilmu islam yang sepi peminat. Tak sedikit pula majelis itu terbuka umum dan gratis tanpa dipungut biaya. Namun mengapa justru sepi peminat? Padahal informasi juga kini amat sangat mudah didapatkan. Lalu mengapa bisa terjadi? Entahlah….

Sebenarnya kalau kita mau berpikir simpel, selama ada kesempatan dan kemudahan untuk belajar kenapa tidak digunakan? apalagi justru ilmu itulah yang bermanfaat kelak untuk menjalani kehidupan kita di dunia. Belum lagi bonus-bonus yang diberikan Allah kepada orang yang berkumpul dalam majelis ilmu untuk mentadabburi Alqur’an. Nama kita akan disebut-sebut oleh Allah SWT di depan para penghuni langit. Bagi seorang penuntut ilmu,  tidakkah itu menjadi prestasi yang tertinggi lagi paling membanggakan?

“Tiada suatu kaum duduk dalam majelis dzikir kepada Allah (Majlis Ilmu), pasti dikelilingi malaikat, diliputi rahmat Allah, diturunkan pada mereka ketenangan dan nama mereka disebut Allah di depan para Malaikat-Nya.” (HR.Muslim)

Mengenal Lebih Dekat Calon Qurban

Gara-gara dari kemarin posting kambing atau sapi terus di Instagram, sekarang jadi mau ngulas dikit tentang liburan saya minggu lalu.

image

Brosur Tamasya Qurban dari Daarul Quran

Selama dua hari dari sabtu sampai minggu kemarin saya ikut program Tamasya Qurban dari Daqu  (Daarul Qur’an) milik Ust Yusuf Mansur. Kalau saya gambarkan Tamasya qurban merupakan program pengenalan hewan qurban  juga berikut penjelasan rantai proses penyediaan hewan qurban sampai proses distribusinya.

Menariknya kita diajak langsung melihat hewan qurban di peternakan yang dikelola salah satu mitra binaan Daqu yakni Mahir Farm. Lokasinya di Cijeruk, Bogor.  Disana peserta dijelaskan mengenai program Qurban Istimewa (Quis) dari Daqu. Program quis menawarkan kepada calon pequrban hewan qurban dengan kualitas yang baik namun dengan harga terjangkau sehingga dapat memperbesar kesempatan para calon pequrban dengan tabungan yang pas-pasan😀 kayak saya ini hahaha.

image

Elus-elus kepala sapi😀

image

Sapi-sapi ternak di Mahir Farm

image

Salah satu kambing yang super gede

image

Kumpulan kambing yang anteng di kandangnya

Kenapa bisa terjangkau? Program ini mengedepankan efisiensi dengan memangkas rantai pasok langsung dari peternak, ditambah pula dengan program 100 harinya, cost bisa ditekan sampai dibawah harga pasar. Sehingga Program Quis mampu menawarkan kambing siap qurban dengan harga 1,8 jt dan utk sapi 2 jt sudah termasuk ongkos potong, marketing, distribusi dan administrasi untuk pelaporan kepada pequrban. Gimana, keren kan?

image

Foto Rame Rame di Depan Kandang Kambing😀

Selain memberikan penawaran harga terjangkau, program Quis juga mempunyai misi untuk mendistribusikan hasil qurban hingga ke tempat terpencil. Hal ini dilatarbelakangi oleh karena selama ini distribusi qurban terpusat hanya di kota-kota besar. Dan pas hari H justru banyak hasil qurban yang lebar, mubazir dan ada juga banyak kasus dimana ditemui baik perorangan maupun oknum yang memanfaatkan hasil qurban ini untuk dijual lagi. Artinya di lapangan banyak kasus dimana distribusi menjadi tidak tepat pada sasaran. Menyedihkan bukan? yang pengennya dapet keberkahan bisa-bisa malah jadi bumerang ketidakberkahan? T.T

image

Hewan Qurban yang akan dilelang sewaktu ditimbang

Bagi saya pengetahuan seperti ini penting. Kenapa? Karena pengetahuan seperti ini mengajak calon pequrban untuk berpikir one step ahead. Tidak hanya berhenti pada “gw mau qurban” dan setelah dilakukan pembayaran selesai. Tapi alangkah bijaknya kalau kita sebagai pequrban juga ikut mikir  dan peduli dengan rantai proses selanjutnya semisal “ini qurban gw mubazir nggak kalau gw qurban disini?” Padahal sudah tahu juga disitu tiap tahunnya banyak yang sisa. Ini hanya sebuah pemikiran kecil, tapi menurut saya jatuhnya pilihan kita kepada siapa akan kita serahkan qurban kita akan memiliki dampak yang luar biasa kedepannya agar distribusi qurban ini menjadi lebih tepat sasaran.

Tetiba saya bermimpi, andai setiap penyalur qurban baik itu lembaga atau masjid di seluruh Indonesia saling bekerjasama dalam suatu sistem yang terintegrasi, baik dimulai dari pendataan para pequrban & penerima qurban hingga distribusinya, ditambah sokongan dari pequrban yang teredukasi dengan permasalahan lapangan seputar qurban, saya percaya berkah dan nikmat dari saling berbagi melalui qurban akan lebih terasa.

image

Petunjuk Memasuki Area Pertanian Organik Binaan Daqu di Kadudampit Sukabumi

Oh ya, ada kegiatan yang menarik lagi dari pelaksanaan tamasya qurban ini yakni peserta diajak untuk lelang qurban dan jalan-jalan di Kawasan Pertanian Organik Daqu di Kadudampit Sukabumi sembari belajar cara menanam padi. Masyaa Allah, sepanjang jalan bertemu permadani hijau. Menyejukan sekali rasanya. Selama berada di pertanian tersebut, peserta diberikan pemahaman bahwa tanah dan tumbuhan diatasnya merupakan makhluk ciptaan Allah. Sama halnya dengan manusia, mereka hidup dan berdzikir. Eh kita juga diajak nanam padi loh. Ternyata susah juga. Tapi lebih dari itu, pengalaman tamasya qurban luar biasa sekali. Karena peserta bisa belajar sekaligus bermain.

image

Sedang dijelaskan bawa tanaman dan tanahpun ikut berdzikir

image

ladang caisim yang menghijau

image

Hotel Ternak?😀

Ketika Ku Ber-i’tikaf

image

Suasana I'tikaf di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia, Jakarta Pusat

Detik terakhir yang berdetak di penghujung sepertiga malam terakhir akhirnya menguak tanya yang begitu kuat.

Bagaimana engkau bisa Yaa Rasulullah, menghabiskan malam-malam-mu  selalu dengan menegakkan qiyamul lail disaat khalayak terlelap dalam mimpi?

Bagaimana bisa engkau nikmati setiap kata perkata dari wahyu yang terucap? Bahkan hingga kaki-kaki menjadi bengkak. Tiada pernah sepatah katapun terlontar keluh maupun kesah.

Kadangkala ada iri terbesit dihati. Imajinasi ini terbang begitu tinggi. Sepele, tapi begitulah yang paling mudah dibandingkan jika harus berteori. Andaipun jadi kalimat andalan. Andaikan saja aku terlahir sebagai orang arab. Mungkin akan jauh lebih mudah untukku jatuh cinta berkali-kali pada sahabat paling sempurna, tiada lain dan bukan ialah Al-qur’an.

Tapi mengubah yang telah ditetapkan adalah kemustahilan. Karena waktu bergerak lurus, dengan kecepatan tetap tanpa pernah diperlambat ataupun berhenti apalagi berbalik haluan.

Juga sesungguhnya tiada salah terlahir dari berbangsa apa. Karena kalamNya ialah sahabat universal. Dijanjikan olehNya dapat dimengerti dengan sangat mudah. Cukup berpegang teguh pada bisa karena biasa dan biasa karena bersungguh-sungguh belajar, maka tiadalah satupun hal yang tidak mungkin.

Kecuali pada sesal yang tetaplah bersisa pada jejak usia lalu yang tersia-sia. Tak henti memaksa menguntai pengandaian “andaikan saja sejak dulu aku”.

Maka lisanku tak henti bergumam
Kelak ajarkanlah anakmu…..
Ajarkanlah anakmu….
Agar tiada sesalnya di kemudian….

—————-
Sedikit penjelasan. Ini coretan yang kubuat saat beri’tikaf di Masjid Baitul Ihsan pada 21 Ramadhan 1436 H. Pengalaman pertama dimana sholat tahajud 8 raka’at dengan menghabiskan 3 Juz bacaan Al-qur’an. Pengalaman yang membuatku sangat berfikir mengenai Rasul yang begitu mencintai Tahajud, begitu mencintai bacaan Al-qur’an. Waktu itu aku berpikir, beginilah rasanya menjalankan apa yang Rasul jalankan dulu. Sungguh aku terheran-heran. Aku sendiri setengah memaksakan diri, karena sebagian tubuhku saat baru separuh Tahajud berjalan sudah berdemonstrasi tak karuan, tidak kaki yang mengatakan tidak kuat menopang tubuh, juga mata yang tak mau berkompromi untuk terjaga. Masya Allah, Yaa Rasul, Yaa Rasulullah. Berulangkali kuberucap seperti itu dalam hati. Bagaimana engkau bisa melakukan ini semua Yaa Rasul? Apa karena begitu cintanya engkau terhadap Al-qur’an? Begitu indahnya makna dari bacaan Al-qur’an hingga membuatmu terlena dan ingin berlama-lama membacanya?

Lalu tiba-tiba akupun merasa iri pada orang arab. Sungguh beruntung mereka. Alqur’an diturunkan dalam bahasa ibu mereka. Harusnya sangat mudah bagi mereka untuk mencintai Al-qur’an bukan?? *ini pemikiran picik, tidak boleh ditiru hahaha*

Rindu Baitullah :Part 2

Hai, gak bosen kan mampir? Yuk, sekarang aku mau cerita untuk Rindu Baitullah Part 2. Oke langsung saja.

Memulai Umrah, Miqat di Bir Ali

Pada hari ke empat, aku bersama rombongan pergi menuju ke Makkah untuk pelaksanaan umroh. Kami berangkat dari Madinah sehabis menunaikan sholat dzuhur. Karena perjalanan menuju Makkah dari Madinah kurang lebih sekitar 6 jam maka sholat ashar kami jamak bersama dzuhur. Kami berangkat menggunakan bus. Kurang lebih 15-20 menit dari Nabawi, kami berhenti di Bir Ali. Bir Ali ini merupakan miqat Makani yang diperuntukkan untuk niat ihram bagi penduduk yang berasal dari Madinah. Di Bir Ali ada sebuah mesjid, di mesjid inilah kami mengambil wudhu, lalu kemudian sholat sunnah tahiyatul masjid dua rakaat. Setelah selesai dan memastikan bahwa syarat syah ihram telah dipenuhi, kami mengucap niat ihram. Dari sini maka apa yang diharamkan pada saat umrah berlaku (baca larangan umroh)

Selayang pandang menuju kota Makkah

Setelah mengucap niat ihram, bis yang kami tumpangi terus melaju menuju Makkah. Selama perjalanan ini kami isi dengan banyak-banyak berdzikir dan talbiyah atau diselingi tidur sebentar apabila merasa lelah. Selama perjalananmenuju mekkah ini, bis yang kami tumpangi berhenti sekali untuk istirahat di tempat oeristirahatan Indonesia. Saya lupa namanya apa. Yang mungkin kangen dengan makanan indonesia disini bisa menikmati makanan indonesia seperti pop mie, bakso dan soto. Oh ya, kebetulan di depan rumah makan ini waktu itu ada penjual madu yaman. Kata ustadzku sih itu madu mahal harganya kalau sudah sampai di Makkah bisa sampai 300 ribu-an. Tapi penjual ini jual murah sekitar 100 rb perliter. Awalnya sih takut beli, tapi berdasarkan rekomendasi ustad katanya sih asli. Ya sudah deh, aku dan beberapa temanku beli. Dan lumayan dapat gratisan habbatusaudah alias si jinten hitam yang masih asli berbentuk butiran. Penjualnya juga ngajarin makan jintan hitam ini bareng madu itu dengan dicampur di sendok. Rasanya jadi lucu, manis-manis kriuk-kriuk gitu.

Malam singkat di hotel

Setelah 6 jam perjalanan, akhirnya sampailah rombongan di kota mekkah. Kami dibawa oleh bis menuju hotel. Sesampai di hotel kami dibagikan kunci kamar untuk menaruh barang-barang dan bersiap-siap untuk pelaksanaan thawaf, ambil wudhu dan sholat maghrib dan isya dengan di jamak takhir. Setelah selesai kami berkumpul di lobi hotel. Waktu itu jam menunjukkan tengah malam kami memulai berjalan menuju masjidil haram. Suasana agak dingin. Meskipun tidak sedingin sewaktu di Madinah.  Tidak menyangka juga ternyata hotel kami cukup jauh, kira-kira satu kilometer dari Masjidil Haram. Akhirnya setelah berjalan cukup lama kami tiba didepan Masjidil Haram. Hanya satu yang terbesit di hati waktu itu yakni puji dan syukur karena bisa diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di Masjidil Haram. Kemudian kami memasuki Masjidil Haram dengan tidak lupa membaca do’a ketika memasuki masjid. Ternyata sewaktu rombonganku disana rupanya sedang terjadi renovasi Masjid besar-besaran sehingga ada beberapa jalan menuju Ka’bah yang ditutup.

image

nama hotel tempatku menginap, ternyata jauh dari Masjidil Haram

 

image

suasana pelataran Masjidil Haram saat tengah malam

image

Suasana Keramaian di Sekitar Masjidil Haram

The beautiful Baitul ‘Atiq, Ka’bah

Akhirnya yang dinanti-nanti tiba. Biasanya hanya bisa melihat Ka’bah dari TV. Tapi waktu itu bisa menyaksikan secara langsung rasanya langsung mengharu biru. Dimulai dari rukun Hajar Aswad, kami memulai thawaf. Kalau hajar aswad tidak kelihatan kita bisa melihat tanda lampu hijau yang menempel di pilar-pilar masjid yang bila dihubungkan dengan hajar aswad akan membentuk satu garis lurus. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika thawaf. Ka’bah berbentuk kubus yang memiliki empat sudut rukun. Pertama kali memulai thawaf dari rukun Hajar Aswad yakni sudut Ka’bah dimana melekat batu hajar aswad. Kemudian berjalan mengelilingi dengan berlawanan arah jarum jam. Setelah melewati Hajar aswad maka akan ditemui yang namanya  pintu Ka’bah dan Maqam Ibrahim yang terletak sekitar 8 meter dari pintu Ka’bah. Selanjutnya kita akan menemukan apa yang disebut dengan Hijr ‘Ismail. Sebaiknya hati-hati pada saat thawaf kita harus berada di luar Hijr ‘Ismail. Karena tempat antara ka’bah dan Hijr ‘Ismail ini masih termasuk bagian Ka’bah sehingga apabila kita masuk di antara keduanya maka thawaf kita tidak sah. Kecuali bila sedang tidak thawaf maka kita boleh-boleh saja berada di Hijr ‘Ismail ini. Kita juga boleh sholat hajat di dalamnya, karena Hijr ‘Ismail ini salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa. Setelah melewati Hijr ‘Ismail akan kita temui rukun Yamani. Saat melintasi  rukun Yamani ada satu doa khusus yang diucapkan yakni :

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Bagi laki-laki disunnahkan untuk berlari-lari kecil. Setelah rukun Yamani maka kemudian akan kita kembali jumpai kembali Hajar Aswad untuk memulai putaran thawaf selanjutnya hingga terlaksana sempurna sebanyak 7 kali putaran.

Sekedar tips ketika thawaf sebaiknya mengajak teman supaya bisa saling mengingatkan sudah berapa kali putaran yang dilakukan. Tapi sebenarnya banyak cara supaya tetap ingat antara lain kita bisa menggunakan karet gelang yang dapat kita pindahkan dari tangan kiri ke kanan setiap kali memulai thawaf atau bisa menggunakan tasbih yang khusus hanya tujuh butir atau bisa menggunakan buku-buku jari seperti sedang berdzikir sehabis sholat. Selesai thawaf selanjutnya melaksanakan sholat sunnah di belakang Maqam Ibrahim dilanjutkan dengan berdoa dan minum air zam-zam. Oh ya, hati-hati ketika thawaf, kadang ada orang yang menawarkan kesempatan untuk mencium Hajar Aswad. Jangan mudah tergiur ya. Karena itu calo, kalau sampai kita mau nanti setelah mencium hajar aswad kita akan disuruh bayar. Ada yang bilang tarifnya bisa sampai satu juta rupiah loh. Tapi saya kok heran sama askarnya kenapa hal ini dibiarkan ya. Saya pikir waktu  pelaksanaan thawaf pada umroh, saat itu tidak terlalu ramai, tapi giliran mau mencium Hajar Aswad itu sulit sepertinya memang sengaja ditutupi oleh komplotan-komplotan si calo-calo tadi.

Berlari mengenang kegigihan ibunda Hajar

Setelah melaksanakan thawaf, selanjutnya yang dilakukan adalah sa’i. Yakni belari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah seperti apa yang dilakukan ibunda Hajar dahulu ketika mencari air untuk putranya ismail. Tempat Sa’i ini ternyata ada dua yakni di atas dan di bawah. Kalau saya lebih prefer untuk melaksanakan sai di atas, karena terlihat lebih luas dan lebar. Jalur untuk sa’i ini sudah diatur sedemikian rupa. Satu jalur untuk perjalanan dari Shafa ke Marwah dan satu jalur untuk arah sebaliknya. Untuk setiap jalurnya sangat lebar mungkin ada sekitar 6 sampai 7 meter. Dalam pelaksanaannya sa’i dilakukan 7 kali perjalanan. Dimana setiap dari Shafa ke Marwah di hitung satu kali dan sebaliknya dari Marwah ke Shafa juga dihitung satu kali. Sehingga kita akan berada di bukit Shafa dan Marwah masing-masing sebanyak 4 kali. Dalam perjalan sa’i ada tanda lampu hijau yang harus diperhatikan. Lampu hijau ini berada diatas, kira-kira memanjang sejauh 5-6 meter. Ketika memasuki area dibawah lampu hijau ini, bagi laki-laki disunahkan untuk berlari-lari kecil. Ketika sampai pada perjalanan terakhir, berarti kita akan berhenti di bukit Marwah. Di bukit inilah dilakukan pelaksanaan tahalul yakni proses memotong rambut. Dengan dilakukannya tahalul ini maka apa yang diharamkan pada saat ihram kini tidak lagi dilarang dan selesailah seluruh prosesi pelaksanaan umroh.

Sightseeing. Mari jalan-jalan.

Setelah pelaksanaan umroh selanjutnya diisi dengan acara bebas saja. Paling-paling acara yang bersama rombongan adalah perjalanan melihat lokasi-lokasi pelaksanaan rukun haji dan tempat bersejarah lainnya seperti Mudzalifah, Mina, Arafah, Jabal Rahmah, Jabal Tsur dan Ji’ronah.

image

Jabal Rahmah, tempat bertemunya Adam dan Hawa ketika diturunkan ke bumi, terletak di area Padang Arafah

image

Tugu Jabal Rahmah. hati-hati terjebak syirik karena di Tugu ini banyak ditemukan coretan nama karena dipercaya dapat memudahkan dalam menemukan jodoh atau membuat hubungan langgeng.

image

Maaf lupa. Tapi sepertinya ini lokasi yang disebut muzdalifah, tempat dimana mengambil kerikil untuk jumrah

image

Mina merupakan lokasi untuk bermalam pada saat Haji

image

Gua Hira terletak di atas Jabal Nur, tempat dimana nabi SAW pertama kali menerima wahyu

My notes

Berikut aku coba rangkumkan beberapa hal berdasarkan pengalamanku selama di Mekkah yang mungkin bisa jadi catatan  :
1. Mumpung masih di Makkah ada baiknya kalau kita memperbanyak ibadah. Seperti ulasanku di Part 1, sekali sholat di Masjidil Haram nilai pahalanya 100 ribu kali dan banyak tempat-tempat khusus yang mustajab untuk berdo’a. Maka sayang sekali kalau waktu dihabiskan dengan percuma. Untuk jalan-jalan bolehlah tapi cukup sekedar tahu saja. Jadi kalaupun tidak ada kesempatan nggak usah ngoyo harus jalan-jalan. Ibadah yang dilakukan di luar umroh seperti sholat wajib, sholat sunnah, baca Al-quran, muroja’ah bisa dilakukan, namun karena Ka’bah juga ada disini alangkah baiknya kalau kita perbanyak thawaf sunnah (baca anjuran memperbanyak thawaf)

2. Kalau hotel letaknya jauh dari masjid, bagi yang kuat dan terbiasa backpacker-an alias hidup seadanya, daripada harus capek bolak balik mesjid hotel, lebih baik berdiam diri di masjid. Biasanya saya pergi ke masjid itu waktu tahajud dan sampai shubuh. Setelah sholat shubuh saya thawaf sebentar, sambil lihat situasi, kalau-kalau ada kesempatan sholat hajat di dalam Hijr Ismail. Nah setelah selesai, kemudian saya pulang ke hotel untuk makan pagi dan mandi. Setelah itu kemudian kembali lagi ke masjid untuk sholat dhuha dan berdiam seterusnya di dalam masjid hingga isya. Untuk makan siang, bisa membeli di counter makanan di sekitar masjid. Tidak usah khawatir disini banyak sekali penjaja makanan seperti kebab, fried chicken dan lain sebagainya. Untuk minumnya tenang saja, karena disini sumbernya air zam-zam, jadi kita bisa minum air zam-zam sepuasnya. Kalau bosan dengan air zam-zam juga banyak yang berjualan jus dan ice cream disekitar masjid. Tapi alangkah baiknya minum air zam-zam karena kandungannya yang lebih baik dari minuman lainnya.

3. Bawa uang secukupnya saja. Di Masjidil Haram ini kita harus berhati-hati menjaga barang kita karena banyak sekali pencopet berkeliaran. Entah kenapa pencopet tetap banyak meski banyak juga yang sudah di eksekusi potong tangan. Di Makkah ini pemandangan seseorang tanpa lengan itu sepertinya pemandangan yang wajar. Info dari teman satu rombongan, pengemis-pengemis yang berlengan buntung itu biasanya dulunya adalah seorang pencopet. Ya meskipun tidak semuanya begitu sih. Sebenarnya di dekat toilet wanita di sebelah sisi deretan pintu bernomor delapan puluhan ada locker yag bisa digunakan untuk menyimpan barang. Tapi aku belum pernah coba. Jadi tidak tahu aman atau tidak apabila menyimpan barang di sana. Untuk mensiasati, pakaian dalam berkantung cukup berguna digunakan untuk sehari-hari membawa uang.

4. Untuk wanita perbanyak bawa baju panjang, seperti gamis dan rok yang bisa dipakai sekaligus untuk sholat. Hal ini cukup memudahkan agar kita tidak perlu pakai lepas mukena karena di sana situasinya padat. Kadang untuk memperoleh tempat untuk sholat saja sulit, apalagi harus lepas pakai mukena. Dan jangan lupa bawa sajadah yang ringan. Jaga-jaga kalau kurang beruntung tidak dapat berjama’ah di dalam masjid karena sudah terlanjur penuh dan harus sholat di pelataran.

5. Pergi bersama teman merupakan hal yang penting. Makkah ini berbeda jauh dengan di Indonesia. Wanita bisa menjadi sasaran empuk kejahatan di sana. Jadi dengan pergi bersama teman kita bisa saling menjaga. Tidak hanya itu kita beribadah di dalam masjid ini bersama dengan orang-orang dari suku bangsa lain yang punya budaya berbeda, sehingga kadang akan terjadi gesekan-gesekan yang kurang menyenangkan. Misalnya saja waktu itu banyak kutemui beberapa orang arab yang sukanya menyela barisan shof, mereka selalu ingin di depan padahal datangnya belakangan. Biasanya mereka tidak segan-segan untuk masuk di celah-celah sempit sekalipun. Wah, kalau badannya kecil sih mungkin bukan menjadi masalah, tapi rata-rata mereka yang sudah berumur beratnya kira-kira di atas 75 kg. Belum lagi kalau kita meninggalkan sebentar tempat kita untuk sekedar mengambil air wudhu. Kalau sendirian, sudah bisa dipastikan itu tempat tadi kita sholat sudah dikuasai oleh orang lain. So berwaspadalah.

6. Bawa obat-obatan yang diperlukan. Kalau buatku pribadi yang paling penting obat masuk angin dan counterpain. Karena waktu itu udaranya agak dingin kalau malam dan pagi badan saya rentan sekali untuk masuk angin. Sedangkan counterpain berguna banget untuk digunakan setelah thawaf atau pulang pergi perjalanan masjid-hotel. Oh ya berhubung kalau thawaf siang hari itu panas (dengan catatan bukan pada saat ihram), karena kita lepas alas kaki, sebaiknya kita tetap pakai kaos kaki atau bisa membeli alas kaki yang lucu-lucu di Grand Zam Zam Tower di depan Masjidil Haram.

image

alas kaki bergambar katak yang kubeli untuk thawaf

 

7. Hati-hati terjebak bid’ah dan syirik. Alangkah baiknya kalau kita melaksanakan umroh kita bekalkan diri kita dengan memperdalam ilmu. Karena salah-salah kita bisa melakukan bid’ah atau syirik. Salah satu contohnya memegang kiswah yakni kain ka’bah, ini salah satu hal yang tidak dicontohkan Nabi. Contoh kasus lain lagi menuliskan nama di Jabal Rahmah dengan maksud agar mendapat jodoh atau agar rumah tangganya langgeng, ini perbuatan yang menjurus ke arah syirik. Untuk itu sebaiknya kita hati-hati jangan sampai ibadah kita justru terhapus amalannya karena perbuatan bid’ah dan syirik tersebut.

Say good bye….

Akhirnya setelah sembilan hari di Arab tibalah waktunya pulang. Sekitar 2 jam perjalanan kami tempuh dari Makkah menuju Jeddah. Sebelum ke bandara kami mampir dulu untuk sholat shubuh di Masjid Terapung, selebihnya kemudian jalan-jalan di sekitar Jeddah.

image

Suasana Masjid Terapung Saat Shubuh

Oke that’s all yang bisa aku ceritakan mengenai pengalamanku menunaikan ibadah umroh. Semoga apa yang aku tuliskan bermanfaat. Mohon maaf atas segala kekurangan. Dan semoga Allah senantiasa memudahkan bagi kita semua untuk meramaikan rumah Allah.

Labbaikallahumma Labbaik………

PK, From My Point of View

image

Hai, baru baru ini aku diajakin seorang kawan nonton film India judulnya PK. Awalnya nggak tahu itu film apaan. Tapi waktu tahu sutradaranya adalah yang membuat film Three Idiots aku jadi tertarik secara Three Idiots itu kalau aku deskripsiin “gue banget”. Weeks… :p

Kalau ku baca artikel-artikel online film ini memang banyak ditunggu tapi juga tidak sedikit pula menuai kontroversi. Terlepas dari pembahasan kontroversi dari film ini, aku cuma mau mengungkapkan pendapatku mengenai film ini. Bagiku film ini adalah penggambaran pencarian Tuhan yang diceritakan dengan sangat simple. Karena tidak perlu berdebat ngotot atau memakai bukti-bukti ilmiah. Ya cukup gunakan pikiran dan rasa saja. Mengapa? Karena menurutku komponen vital manusia ya dua hal itu yakni akal dan hati. Kalau salah satu dari dua komponen ini rusak maka seseorang tak layak lagi menggunakan title sebagai manusia. #Sok filosofis heuheu.

Sinopsis singkat, film ini mengisahkan tentang Perjalanan PK (diperankan oleh Amir Khan)  yakni seorang alien yang singgah di bumi karena sedang melakukan penelitian. Kemudian ia kehilangan remote control-nya yang berbentuk batu sehingga ia tidak dapat kembali ke planetnya. Pada akhirnya ia harus menetap di bumi untuk jangka waktu yang lama dengan satu misi yakni mencari remote control-nya yang hilang agar ia bisa kembali ke Planetnya. Selama di bumi ia menemui banyak kesulitan seperti tidak tahu cara berpakaian dan tidak bisa berbahasa manusia. Hingga pada akhirnya diapun sedikit demi sedikit belajar untuk “bertingkah seperti manusia bumi” hingga sampai mengenal Tuhan. Untuk sinopsis lengkapnya mungkin bisa ditengok di sini.

Seperti kuungkap di atas, dalam benakku cerita perjalanan PK seperti sebuah perumpamaan dalam pencarian hakikat Tuhan. PK, seorang alien, yakni makhluk asing berasal dari luar angkasa yang singgah di bumi ibarat seperti bayi yang lahir ke dunia. Merupakan hal asing baginya ketika pertama kali melihat dunia. Lalu kemudian seiring bertambah usia, bayi tersebut belajar menggunakan hati dan akalnya sehingga tumbuh menjadi menjadi seorang manusia.

Meski dikemas dengan gaya komedi, bagiku konflik yang ada di film ini sebenarnya sarat akan makna yang sesungguhnya seringkali kita abaikan. Mengapa terabaikan? Terbiasa. Ya menurutku apabila kita sudah terbiasa akan satu hal maka kita akan lupa untuk bersikap kritis akan hal tersebut. Ya, menonton film ini seolah-olah mau tak mau mengajakku untuk berfikir hal-hal fundamental terkait Tuhan dan Agama.

Siapakah Tuhan itu?

Pada suatu ketika PK yang mencari remote control-nya bertanya pada setiap orang yang ditemui dan mendapatkan jawaban, “bertanyalah pada Tuhan” atau “hanya Tuhan yang tahu dimana remote-mu”

Lalu PK berpikir “siapa itu Tuhan??”
Lalu dengan takjubnya dia bergumam ketika menemukan jawabannya, “hebat!! manusia bumi telah mengetahui siapa yang menciptakan mereka yakni Tuhan”

Dari scene ini aku mengambil kesimpulan bahwa makna yang ingin disampaikan adalah Tuhan  ialah pencipta manusia.

Pernah gak ada satu kali dalam hidupmu bertanya? Kenapa sih kita ibadah kepada Tuhan? Kadang beneran loh kita lupa dan menganggap ibadah merupakan ritual biasa tanpa peduli akan esensinya bahwa kita sedang menghadap Tuhan dan menghamba kepadaNya yang menciptakan kita. Bahkan kita berucap atau melakukan gerak tertentu dalam ibadah hanya sebagai kewajiban bukan dari hati dan lupa bahwa saat itu kita sedang berdialog dengan Tuhan yang menciptakan kita.

Tuhan hanya satu, lalu kenapa banyak agama di muka bumi ini?

Lalu kemudian sampailah perjalanan PK pada hakikat agama. Ia mengibaratkan agama seperti sebuah perusahaan yang mewakili Tuhan berhubungan dengan hambanya. Namun sayang ternyata PK menemui kenyataan bahwa agama tidak hanya satu. Sehingga terjadilah sebuah konflik di alam pikiran PK. Kalau Tuhan hanya satu lalu kenapa ada banyak agama? Agama-agama tersebut-pun memiliki konsep ketuhanan dan tata ibadah yang berbeda. Seolah-olah Tuhan itu plin plan. Namun pada akhirnya karena suatu peristiwa telepon salah sambung kemudian munculah konsep mengenai “wrong number“.

Di bagian scene inilah yang lebih banyak mengajakku untuk berpikir. Penafsiranku terhadap konsep wrong number ini adalah penekanan bahwa sesungguhnya hanya ada satu agama saja yang benar-benar murni dari Tuhan. Yang lain semua wrong number alias salah sambung. #sok bisa main tafsir-tafsiran. :D#

Banyak pada scene ini menunjukan karakter PK yang cerdas tapi polos namun bagiku mewakili penggunaan dua komponen vital manusia yang kusinggung di atas secara seimbang.

Ada satu adegan dimana ada seorang laki-laki tua bertanya pada Yang Mulia (pemuka salah satu agama)

“istriku sedang sakit yang mulia, apa yang harus kulakukan?”

Lalu yang mulia menjawab dengan nubuatnya “kamu harus pergi ke kuil antah berantah ini dan berdoa di sana”.

Lalu PK berteriak, “wrong number!!”. Ia mengatakan pada Pak Tua tersebut agar ia jangan pergi ke kuil dengan memaparkan argumentasinya.

Menurutku disinilah PK menggunakan akal dan hatinya. Kalau dari segi akal, kalau Pak Tua pergi maka tidak ada yang menjaga istrinya padahal kondisi istrinya tidak bisa ditinggal, bisa jadi malah istrinya tambah parah karena ditinggal. Lalu kalau dari segi perasaan coba deh tanyakan kembali ke diri kita masing-masing kalau kita jadi Pak Tua. Apa iya perasaan kita akan “membenarkan” untuk meninggalkan orang yang kita cintai padahal sedang sakit? Padahal mungkin keberadaan kita disekitarnya adalah booster semangat baginya.

Pada akhirnya kesimpulanku mengenai scene ini, yang pertama adalah Tuhan yang notabene Maha Pengasih dan Penyayang apa iya akan menuntun ke arah solusi yang menjebak hambanya sendiri?. Dan yang kedua untuk mengetahui the right number maka gunakanlah baik akal dan hatimu.

Tuhan perlu dilindungi?! Kau pasti sedang bercanda.

Di scene terakhir PK  melakukan debat terbuka bersama Yang Mulia dimana pada akhirnya Yang Mulia mengakui bahwa ia melakukan sesuatu agar nubuatnya menjadi terlihat nyata dengan alasan ia ingin melindungi Tuhan. Lagi-lagi kembali dengan cerdasnya PK membungkam manis mulut Yang Mulia dengan perkataan “yang kau lindungi Tuhan yang kau ciptakan atau yang menciptakanmu, kalau Tuhan yang menciptakanmu Ia tidak butuh dilindungi”

Waktu nonton adegan ini, sebuah senyum tersinggung dibibirku sekilas. Aku setuju Tuhan tidak butuh dilindungi, karena dia yang menciptakan manusia. Apalah arti seorang manusia bagi Tuhan. Manusia adalah tempatnya lemah. Sedangkan Tuhan adalah yang Maha Kuat. Jadi ia tidak butuh dilindungi. Dan kita kadang lupa akan hal ini. Kita merasa Tuhan butuh untuk dilindungi.

Ya, ya lalu kalau tidak butuh dilindungi lalu Tuhan butuh apa? Nothing. Menurutku Ia tak butuh apapun. Tapi ia patut, bukan patut dilindungi tapi patut dibela. Dibela dan dilindungi itu menurutku berbeda. Dilindungi mengacu pada kelemahan sedangkan dibela mengacu pada kebenaran. Dan aku memilih menggunakan kata patut bukan butuh karena Tuhan sebagai sumber kebenaran tak memiliki kebutuhan untuk dibela tapi memang Ia layak dan patut dibela.

That’s all merupakan penafsiranku secara general dari film PK ini. Kukatakan general karena sebenernya masih banyak hal-hal terlalu khusus yang mengajak berpikir mengarah pada the wrong & the right number. Tapi aku gak mau bahas itu. Karena kalau sudah masuk kesitu takutnya akan ada pihak yang merasa tersinggung. Dan perbendaharaan ilmuku memang belum cukup sampai kesitu. So keep it simple, supaya aku juga bisa mengenang sebagian film ini sebagai komedi yang mampu mengocok perut.

Dear readers (kayak ada yang baca aja hahaha), mohon maaf apabila ada kata-kata yang salah dan pemikiran yang keliru, karena ini hanya pemikiran sederhanaku semata. Last but not least, untukku seorang PK ibarat penjelmaan dari petikan ayat ini dan ayat yang serupa lainnya :

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”

Rindu Baitullah : Part 1

image

Suasana Thowaf

Belum pernah ada masa kukecap dulu.
Ada rindu begini bertalu-talu.
Resah gelisah ingin bertemu.
Lagi-lagi ingin ia panggil-panggil aku.

Hei, katanya rindu itu bagian cinta.
Padahal sekali baru saja bertatap muka.
Sungguh benar cinta datang tanpa diduga.
Baru sejenak pergi ingin lagi bersua.

Labbaikallahumma labbaik

Menuju akhir Desember 2014 yang lalu, Alhamdulillah banget aku diperkenankan untuk melaksanakan umroh di kota yang sangat dirindukan untuk didatangi oleh jutaan umat muslim yang tersebar di pelosok dunia, apalagi kalau bukan kota Mekkah dan Madinah. Tentu saja tidak lain ini karena kemurahan Allah yang memberikan sedikit rezeki sehingga aku yang hidup pas-pasan ini bisa pergi kesana. Untuk itu di postingan kali ini aku akan mencoba untuk mengulas perjalanan religiku. Siapa tahu bisa menjadi informasi yang bermanfaat bagi para readers. Sebelumnya aku beritahukan bahwa mungkin postingan kali ini akan terasa sedikit panjang dan terbagi dalam dua part karena banyak sekali yang mau aku ceritakan disini. Jadi mohon maaf bila akan sangat membosankan.

Berangkat tanggal 17 Desember 2014 menggunakan pesawat Saudi Airlines aku bertolak dari Jakarta menuju kota Madinah terlebih dahulu. Waktu itu perasaanku sangat campur aduk. Antara senang, terharu dan sedikit gelisah. Maklum perjalanan ini merupakan kedua kalinya aku pergi meninggalkan tanah air dan aku berangkat hanya seorang diri. Perjalanan yang dibutuhkan cukup lama, kira-kira samalah kalau dibandingkan dengan perjalanan dari Jakarta ke Surabaya naik kereta. Lucunya waktu itu aku merasa amazing banget dan benar-benar menikmati benar perkara perbedaan waktu. Aku berangkat pukul 6 dari Jakarta dan sampai di Madinah pukul 17 waktu Jakarta, namun karena adanya perbedaan waktu, yakni mengikuti waktu Madinah, maka aku tercatat tiba di Madinah pukul 13. Artinya aku mengalami siang lebih lama. Dan ini berasa sesuatu banget. #Hahaha, katrok!!!

Menelusuri Madinah

Madinah ini termasuk salah satu dari dua kota suci umat muslim di negara Saudi Arabia selain kota Mekkah. Madinah inilah kota dimana Nabi melakukan hijrah. Disini banyak tempat-tempat yang biasanya direkomendasikan oleh pihak travel untuk dikunjungi selain Masjid Nabawi tentunya, misalnya seperti Makam Baqi, Pasar Kurma, Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Jabal Uhud dan Percetakan Al-quran. Tapi sayang karena waktu umroh hanya 9 hari maka jadwalpun harus dibagi-bagi sehingga nggak semua tempat tersebut bisa aku kunjungi. Kalaupun mengunjungi paling-paling hanya lewat dan mengamati dari dalam bis. Dari kesemua lokasi hanya Masjid Quba, Pasar Kurma, dan Jabal Uhud saja dimana aku benar-benar menapakan kakiku ke bumi.

Masjid Nabawi such a peaceful place

Pertama-tama aku ceritakan yang paling melekat dibenakku yakni Masjid Nabawi karena selama di Madinah disinilah aku menjalani kegiatan sehari-hariku. Aku nggak tahu penampakan Masjid ini dari atas, hanya aku menduga bentuknya seperti persegi panjang. Masjid ini terlihat berwarna dominan putih gading dan emas, megah dan luas dengan kubah yang bisa begerak. Kata guideku Masjid Nabawi ini dulunya nggak terlalu luas seperti sekarang hanya kurang lebih beberapa meter dari kediaman rasul. Oh ya, di Masjid Nabawi inilah terletak makam rasul. Didekat makam rasul ini pula dikenal ada satu tempat namanya Raudhoh. Raudhoh adalah tempat antara mimbar Masjid Nabawi (lokasi masjid lama) dan rumah Rasul. Tempat ini merupakan salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa. Banyak orang yang berdesak-desakan untuk bisa sholat dan bermunajat di tempat ini, maklum tempatnya nggak begitu luas paling kira-kira cuma 6 x 8 meter ditandai dengan karpet berwarna hijau. Makanya waktu mengunjungi tempat ini diatur jadwalnya oleh askar yang bertugas mengatur masjid. Jadwal laki-laki dan perempuan untuk memasuki raudhoh ini dibedakan. Kalau tidak salah untuk wanita selepas Dhuha, setelah Dzuhur dan sehabis Isya selebihnya untuk pria.

image

Pelataran Masjid Nabawi

Untuk pergi ke Raudhoh mandiri tanpa guide usahakan pergi bersama teman ya, karena dengan bersama teman, kita bisa gantian saling menjaga ketika sholat. Selama di Madinah Alhamdulillah aku berkesempatan sholat hajat dan berdoa di Raudhoh selama dua kali dan sukses bikin termehek-mehek nggak berhenti-berhenti. Bagaimana nggak nangis, menurut Imam Gozhali waktu adalah hal yang paling jauh, dan Rasul hidup beratus-ratus tahun yang lalu, sesuatu yang sulit untuk digenggam. Memeluknya, menciumnya mungkin hanya bisa dalam khayalan. Hingga ketika berdiri di depan makamnya, seketika tumpah ruahlah emosi rindu yang mengharu biru dan tak terbendung ini. #halah.

image

Payung Raksasa Ketika Terbuka

Menuju ke pelataran Masjid Nabawi, masjid ini dikelilingi teras yang luas dimana di atas teras tersebut berdiri payung-payung raksasa indah yang dapat menutup dan membuka dengan sistem hidraulik. Payung-payung tersebut digunakan untuk menghalangi panas matahari. Di sekeliling pelataran masjid Nabawi ini juga berdiri toilet dan pintu-pintu masuk. Biasanya pintu dan toilet ini aku jadikan patokan untuk mengingat posisi karena pintu dan toilet ini bernomor. Jadi tempat-tempat ini adalah tempat paling mudah untuk bertemu kalau kita janjian dengan orang lain. Untuk setiap hari jumat, karena hari jumat adalah hari libur, sepertinya pelataran ini jadi semacam arena kumpul keluarga, karena aku pernah terheran-heran banyak anak kecil sampai remaja yang berlarian di jumat malam tapi nggak begitu banyak kutemukan di malam lainnya.

Diluarnya, Masjid Nabawi ini dikelilingi dengan banyak toko dan pedagang. Berbagai benda banyak dijual disini, mulai dari kurma, cokelat, pakaian, alas kaki. Lucunya kalau kuperhatikan, kita akan menemukan beberapa pedagang menggunakan gerobak ala jaman kerajaan majapahit untuk menjajakan barangnya. Tidak jarang juga para pedagang ini menerima uang indonesia loh. Rata-rata pedagang setidaknya mengenal mata uang rupiah pecahan 50 ribu dan 100 ribu. Sebagian dari mereka juga paham sedikit bahasa Indonesia yang digunakan dalam transaksi jual beli.

image

Jam Besar di depan Masjid Nabawi. Disini banyak ditemukan burung-burung merpati berterbangan dan mencari makan

Di sekitar pelataran Masjid Nabawi ini ada beberapa lokasi yang mungkin bisa dijadikan spot untuk diabadikan dalam foto. Selain masjid dan payung raksasanya, salah satu spot bagus untuk diabadikan adalah jam besar yang bentuknya mirip jam gadang. Jam ini terletak persis didepan Masjid. Di sekeliling jam besar ini biasanya banyak burung-burung merpati yang menghinggapi jam tersebut untuk mencari makan. Sebenernya sih pengunjung juga yang memberikan makanan ke burung-burung tersebut. Biasanya memang ada penjual yang menjual pakan burung bagi pengunjung yang mau sedikit membagi rezeki kepada burung-burung. Selain di dekat jam besar ini, kalau berminat untuk berfoto bersama burung-burung merpati ada spot lain yang tidak jauh dari Masjid Nabawi yakni ke arah selatan dekat underpass.

image

Berburu Foto Bersama Merpati

Berbicara soal ibadah, selain sholat sunnah di Raudhoh yang aku ceritakan diatas, aku bertekad selama di Madinah ini untuk nggak melewatkan untuk sholat fardhu, sunnah dhuha dan tahajud di Masjid Nabawi. Tentu aja motivasinya untuk mengejar pahala 1000 kali lipat sekali sholat. Gilaaa, Allah pemurah banget kan? Aku jadi teringat membaca sebuah buku bahwa di islam dikenal faktor kali dan faktor abadi. Apa itu? Hal ini memiliki pengertian bahwa dalam ibadah-ibadah tertentu ada yang Allah berikan ganjaran dengan pahala yang berkali-kali lipat dan ada yang diberikan ganjaran dengan pahala yang tak pernah putus, selalu mengalir alias abadi. Sungguh Allah maha pemurah. Padahal ini baru sholat di Masjid Nabawi, coba nanti waktu di Masjidil Haram. Ganjarannya akan lebih besar yakni 100.000 kali lipat sekali sholat. *WOW*

Selain memperbanyak ibadah sholat dan membaca Al-quran, selama di Madinah kita bisa cari pahala lain melalui sedekah. Ada banyak pintu sedekah yang bisa kita temukan. Misalnya saja dengan waqaf Al-quran. Selain dapat membeli di Percetakan Al-quran, sebenernya di pintu-pintu masjid bisa ditemukan pedagang yang menjual Al-quran untuk waqaf. Waktu itu aku bersama temanku membeli alquran waqaf yang ukuran kecil, kalau nggak salah waktu itu untuk 6 buah Al-quran seukuran buku tulis kecil kami dikenai harga 100 Riyal. Biasanya setelah membayar maka pedagang akan memberikan cap stempel bertuliskan waqaf lillahi ta’ala di halaman depan masing-masing Al-quran. Tapi kita harus hati-hati juga nih pada saat membeli Al-quran untuk waqaf karena hanya Al-quran cetakan dari percetakan saja yang diterima di Masjid Nabawi. Ada salah seorang ibu rombonganku memberitahu ciri dari Al-quran keluaran percetakan yakni tidak terlalu banyak catatan-catatan kaki di bingkai halamannya. Selain waqaf Al-quran kita juga bisa sedekah kepada para petugas pembersih Masjid. Masjid Nabawi ini memiliki banyak petugas pembersih masjid. Banyak juga diantaranya ternyata merupakan TKW asal Indonesia. untuk itu biasanya sedekahku aku prioritaskan untuk saudara-saudara kita dari tanah air. Kasihan loh mereka, aku pernah dengar temanku menceritakan bahwa ia pernah berbincang dengan salah satu petugas pembersih asal Indonesia, ternyata penghasilan merekapun tidak besar bahkan ada yang penghasilannya tidak lebih tinggi dibandingkan UMR.

Oh ya, di kota Madinah ini aku menginap di salah satu hotel yang kira-kira jaraknya kurang lebih 400 m dari masjid Nabawi namanya Deyar Al-Huda. Sebenarnya hotel-hotel di Madinah ini jaraknya dekat-dekat tapi kalau kebetulan dapat yang jauh, lebih baik lebih sering berdiam di Masjid saja dibanding harus bolak-balik ke hotel. Akupun begitu, ke hotel hanya untuk makan siang saja, selebihnya aku berdiam diri saja di Masjid. Tidak usah kuatir untuk makan dan minum. Di Masjid selalu tersedia banyak air zam-zam dan seperti yang aku ceritakan di atas bahwa di sekeliling masjid ada banyak toko, diantaranya toko makanan. Biasanya aku membawa bekal kurma untuk sementara meredakan gejolak perut dikala meraung-raung minta diganjel, alias ketika penyakit magh langgananku kambuh.

Masjid Quba, the little white mosque masjid

image

Masjid Quba

Di hari touring, pihak travel membawa rombonganku pergi ke masjid Quba yakni Masjid pertama yang dibangun oleh Rasul. Jangan bandingkan dengan Masjid Nabawi, Masjid Quba ini tidak terlalu besar dan warnanya dominan putih. Disini kami hanya sebentar saja. Hanya masuk masjid kemudian sholat tahiyatul masjid dilanjutkan sholat Dhuha. Sholat di masjid ini memiliki keutamaan yakni bila melaksanakan sholat disini sama ganjarannya dengan satu kali ibadah umrah. Sama halnya dengan di Masjid Nabawi, disekitar Masjid Quba juga ada banyak pedagang yang berjualan. Hanya pihak travel memberikan peringatan kepada kami untuk berhati-hati jika ingin membeli sesuatu karena terkadang ada beberapa penjual yang nakal yakni menjual barang-barang palsu seperti parfum yang isinya telah diganti.


Jabal Uhud sang saksi bisu perang uhud

image

Jabal Uhud

Setelah mengunjungi Masjid Quba, selanjutnya rombongan dibawa untuk melihat Jabal Uhud. Jabal Uhud ini adalah lokasi penting dalam sejarah islam, karena disinilah terjadinya Perang Uhud. Pemandangan disini benar-benar indah. Kita akan disajikan satu lansekap yang luas membentang dimana didalamnya terlukis barisan bukit berwarna cokelat tanah yang memanjang. Disini juga terdapat makam para syuhada salah satunya sahabat rasul sekaligus pamannya yakni Hamzah bin Abdul Muthalib. Sehingga disini kita dianjurkan untuk memberi salam dan mendoakannya. Dan lagi-lagi, seperti kata pepatah, dimana ada gula pasti ada semut, dimana ada keramaian disitulah ada pedagang. Kalau diperhatikan memang disepanjang jalan menuju bukit ini banyak pedagang-pedagang yang berjualan.


Pasar kurma dan si permadani gurun

image

Kebun Kurma

Pasar kurma adalah salah satu lokasi wajib dikunjungi oleh para jamaah baik haji maupun umroh. Disini banyak dijual berbagai macam jenis kurma dan oleh-oleh khas lainnya dari negara arab seperti kacang arab, cokelat dll. Istimewanya di Pasar Kurma ini pengunjung dipersilahkan untuk menyicipi kurma-kurma yang dipajang sepuasnya secara gratis. Tapi jangan dibawa pulang ya, karena kalau dibawa pulang kita wajib bayar alias beli. Nah, disekitar pasar kurma inilah terdapat pemandangan permadani nan hijau di atas gurun apalagi kalau bukan kebun kurma itu sendiri. Di madinah ini kurma memang merupakan komoditas utama. Maka wajar harga kurma di kota ini jauh lebih murah dibandingkan di Mekkah. Untuk kurma nabi yang biasa dikenal dengan sebutan kurma Ajwa rata-rata perkilonya 70-90 Riyal. Tapi ada juga loh salah satu teman satu rombonganku yang bisa menawar hingga 50 Riyal perkilo. *jago amat nawarnya ckckckck* Memang kalau mau memberikan kurma Ajwa sebagai oleh-oleh aku rasa sebaiknya beli di Madinah saja. Apalagi kalau sampai beli di tanah air. Aku pernah ngubek-ngubek di Pasar Tanah Abang satu kilonya bisa mencapai 450 ribu rupiah loh. Tapi ya konsekuensinya barang bawaan jadi berat *huhuhu*.

Selesai sudah jejak perjalananku di kota Madinah. Untuk lanjutan perjalanan menuju ke dan di Kota Mekkah apabila masih berkenan membaca bisa langsung aja ke TKP ya, yakni Part 2.

Kembalikan Tepo Seliro

image

Sebelum baca postingan dibawah ini, cobalah tengok tulisan berikut ini :

http://www.rappler.com/world/regions/asia-pacific/indonesia/79369-bagaimana-media-seharusnya-meliput-berita-kecelakaan-atau-bencana-alam?utm_source=twitter&utm_medium=share_bar

Ah sudah baca? Bagaimana pendapat kalian?

Aku anggukan kepalaku atas apa yang aku tangkap dari artikel di atas. Meskipun aku bukanlah wartawan tapi artikel di atas cukup menyudutkanku, membawa ke permukaan yang kusebut pencerahan.  Ya, menurutku tidak lain tidak bukan apa yang diungkapkan artikel tersebut membuktikan benar adanya kemunduran moral dan hilangnya rasa kemanusiaan dari bangsa kita. Bangsa yang mengaku menjunjung tradisi timur yang terkenal dengan  berbudipekerti luhur.

Membaca artikel di atas sekilas mengingatkanku pada masa SD. Bagiku ada satu pelajaran yang menurutku paling membosankan. Apa itu? PPKn. Mengapa? Simple, karena tak ada tantangan. Seolah semua bisa kupahami dengan mudah. Dan aku merasa semua orang tanpa belajarpun tahu itu. Tapi kini kusadari bahwa aku telah keliru atas rasa bosanku tersebut. Memang bukan persoalan logikalah yang dominan diuji di mata pelajaran tersebut, melainkan persoalan RASA yakni rasa kemanusiaan dari seorang siswa yang notabene adalah seorang manusia.

Entah dimana letak kesalahan akan pendidikan formal dan informal (baca:kemasyarakatan) yang kukenyam sehingga munculah manusia sepertiku. Manusia yang dalam bermasyarakat hanya sekedar TAHU akan nilai-nilai kemanusiaan namun dengan pengalaman praktek NIHIL.

Apa mungkin karena banyak orang sepertiku yang terlalu sibuk memutar otak tuk penuhi ego tanpa indahkan rasa sehingga perlahan-lahan tepo seliro yang digadang-gadang sebagai permata jati diri bangsa tanpa disadari memudar tak lagi berbekas. 

Apakah perlu memutar waktu kembali ke jaman perang dengan celurit dan tombak untuk sadarkan manusia sepertiku? Mungkin manusia sepertiku bisa dikatakan cerdas karena mungkin pandai dalam berhitung untung dan rugi atau mampu melihat peluang tapi kalau dikatakan berakhlak? berperikemanusiaan yang beradab? Oh tunggu dulu.

Dahulu di jaman perang kita mati-matian bela saudara sebangsa karena rasa senasib sepenanggungan, tapi kini bangkai saudarapun kita kunyah demi sesuap nasi. Sebegitu hinakah kini hasrat untuk memenuhi ego bertahan hidup? Hingga melukai perasaan sesamapun dilakoni.

Setiap profesi memiliki etika. Etika tersebut tidaklah sembarangan dicetuskan. Etika profesi tentu dibuat dengan menjunjung nilai kemanusiaan. Tapi dimana kini peran etika profesi? Etika profesi hanya jadi janji manis. Dibandingkan urusan perut, etika profesi menduduki urutan sekian dan sekian.

Hei, hei, ayolah, mari berpikir dan resapi dimana letak kesalahan ini? Seolah hal ini telah mendarah daging. Hingga dibuatnya sistem dan peraturan bermacam-rupapun tak mampu menembus dan mengenyahkan krikil hati yang menutupi nilai-nilai kemanusiaan yang sesungguhnya secara tak sadar tak pernah hilang karena hanya tertutupi. Ya, aku, kamu manusia yang sepertiku, sesungguhnya hanya perlu memaksimalkan HATI untuk jadi manusia yang memang layak disebut sebagai manusia.

Note :
Ah, mohon maaf bila ada hal yang menyinggung atas tulisan menggebu-gebu ini. Sekalian aku turut mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya untuk korban dan keluarga kecelakaan pesawat air asia QZ8501. 

Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihim wa’fuanhum.